Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?      OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?     

Tradisi Gotong Royong Menugal Padi di Ladang

16 Jul 2026
Sokai Developer
43 dilihat
0 komentar
Headline, Tradisi

Menugal padi merupakan salah satu tradisi bercocok tanam yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat pedesaan. Kegiatan ini dilakukan di ladang kering yang telah selesai dibersihkan dan dibakar. Setelah abu sisa pembakaran menyatu dengan tanah, ladang siap ditanami benih padi. Lahan yang digunakan berupa tanah yang relatif datar, masih terdapat beberapa tunggul pohon yang tersisa, dan di sekelilingnya terbentang hutan sebagai batas alami ladang.

Tradisi menugal selalu dikerjakan secara bergotong royong. Masyarakat percaya bahwa pekerjaan yang dilakukan bersama akan terasa lebih ringan dan dapat selesai dalam waktu yang lebih singkat. Setiap keluarga saling membantu tanpa mengharapkan imbalan. Hari ini mereka bekerja di ladang milik satu keluarga, kemudian pada hari berikutnya seluruh kelompok akan berpindah ke ladang keluarga lainnya. Dengan cara ini, semua warga memperoleh bantuan yang sama hingga seluruh ladang selesai ditanami.

Dalam pelaksanaannya, kaum laki-laki berada di barisan paling depan sambil membawa kayu tugal yang ujungnya diruncingkan. Kayu tersebut dihentakkan satu kali ke tanah sehingga terbentuk lubang kecil yang cukup untuk memasukkan benih padi. Setelah membuat satu lubang, mereka segera melangkah ke depan untuk membuat lubang berikutnya secara berurutan.

Di belakang barisan laki-laki, kaum perempuan mengikuti sambil membawa benih padi di dalam wadah atau bakul kecil. Mereka memasukkan beberapa butir benih ke setiap lubang yang telah dibuat, kemudian menutupnya kembali dengan tanah agar benih terlindungi dan dapat tumbuh dengan baik. Untuk melindungi kepala dari panas matahari, para perempuan mengenakan penutup kepala yang dibuat dari kain panjang yang dilipat-lipat hingga membentuk bantalan yang nyaman dipakai selama bekerja di ladang.

Suasana menugal berlangsung penuh semangat dan kebersamaan. Canda, tawa, dan percakapan ringan terdengar di sela-sela pekerjaan sehingga rasa lelah menjadi berkurang. Anak-anak terkadang ikut mengantar air minum atau membantu pekerjaan ringan, sementara orang tua memberikan petunjuk dan berbagi pengalaman kepada generasi muda tentang cara menugal yang baik.

Menjelang tengah hari, seluruh pekerja beristirahat bersama di sebuah pondok sederhana yang dibangun di tepi ladang. Pondok tersebut menjadi tempat berteduh dari teriknya matahari sekaligus tempat berkumpul untuk menikmati makan siang. Sebagian ibuk ibuk tinggal dipondok menyiapkan makan.siang dan bubur sumsum atau bubur kacang hijau sebagai pencuci mulut selesai makan siang, Nasi dengan lauk-pauk sederhana seperti ikan, sayur, sambal, dan lauk kampung menjadi hidangan yang dinikmati bersama-sama.

Selain makan siang, masyarakat juga menyajikan makanan tradisional sebagai hidangan kebersamaan. Bubur sumsum yang lembut disajikan dengan kuah gula merah yang manis, bubur kacang hijau yang hangat menjadi sumber tenaga setelah bekerja sejak pagi, serta bubur kacang atau makanan tradisional lainnya sering dihidangkan sebagai pelengkap. Hidangan sederhana tersebut menjadi bagian dari tradisi yang mempererat hubungan kekeluargaan di antara para petani.

Setelah waktu istirahat selesai, seluruh anggota kelompok kembali bekerja hingga sore hari. Semangat gotong royong tetap terjaga karena mereka memahami bahwa keberhasilan menanam padi merupakan tanggung jawab bersama. Esok harinya, pekerjaan dilanjutkan di ladang milik keluarga lain hingga seluruh lahan masyarakat selesai ditugal dan ditanami.

Tradisi gotong royong menugal padi bukan hanya mencerminkan cara masyarakat mengolah lahan pertanian, tetapi juga menjadi warisan budaya yang mengandung nilai kebersamaan, saling tolong-menolong, rasa persaudaraan, dan kepedulian antarsesama. Melalui tradisi ini, masyarakat menjaga hubungan sosial yang harmonis sekaligus melestarikan kearifan lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur dari generasi ke generasi.

Bagikan Artikel
Artikel Terkait

Belum ada artikel terkait.

Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.