Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?      OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?     

Buah Putar, Gasing Alami dari Tepi Hutan yang Menghidupkan Masa Kecil

06 Aug 2026
Sokai Developer
47 dilihat
0 komentar
Headline, Kenangan, Permainan Tradisonal

Sebelum permainan modern hadir di genggaman, alam telah lebih dulu menjadi taman bermain bagi anak-anak kampung. Di pinggir hutan, tidak jauh dari perkampungan, tumbuh sebatang pohon yang setiap musimnya menghasilkan buah kecil berwarna hijau yang oleh anak-anak dikenal sebagai buah putar.

Ketika buahnya mulai tua, satu per satu akan jatuh memenuhi tanah di bawah pohonnya. Hamparan buah berserakan itu menjadi pertanda bahwa musim bermain telah tiba. Seusai pulang sekolah atau ketika sore mulai teduh, anak-anak berlarian menuju pohon tersebut untuk memungut buah-buah terbaik.

Yang dicari bukan buah yang sembarang. Anak-anak akan memilih buah yang bentuknya bulat, keras, dan masih utuh karena dipercaya mampu berputar lebih lama. Dengan sedikit sentuhan jari, buah itu diputar di atas tanah yang rata layaknya sebuah gasing.

Tak lama kemudian, halaman di bawah pohon berubah menjadi arena perlombaan sederhana. Gelak tawa memenuhi udara saat setiap anak mencoba memutar buah miliknya sekuat mungkin. Sorakan pun terdengar setiap kali ada buah yang terus berputar tanpa henti.

"Siapa yang paling lama berputar, dialah pemenangnya."

Aturan permainannya sangat sederhana, tetapi menghadirkan kegembiraan yang luar biasa. Tidak ada hadiah, tidak ada piala, hanya rasa bangga karena berhasil mengalahkan putaran teman-teman yang lain.

Kini, permainan itu mulai jarang terlihat. Anak-anak lebih akrab dengan layar ponsel dibandingkan bermain di bawah pohon. Namun bagi mereka yang pernah mengalaminya, kenangan memungut buah putar di tanah, membersihkannya dengan ujung baju, lalu memutarnya hingga berputar lama di atas tanah akan selalu tersimpan dalam ingatan.

Permainan sederhana itu mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dibeli. Alam telah menyediakan hiburan, persahabatan, sekaligus pelajaran tentang kreativitas. Sebuah buah kecil yang jatuh di pinggir hutan telah menjadi saksi indahnya masa kecil anak-anak kampung—masa ketika tawa terdengar lebih nyaring daripada bunyi notifikasi, dan kebersamaan jauh lebih berharga daripada apa pun.

Bagikan Artikel
Artikel Terkait

Belum ada artikel terkait.

Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.