Lewat petikan gitar dan lirik yang menggunakan bahasa daerah, Lepikal Eka Putra membawa pendengar masuk ke sebuah cerita tentang perasaan yang mulai berubah setelah seseorang memilih mendekati orang lain.
“Mungata” bukan sekadar cerita tentang jatuh hati. Di balik kata-kata dalam lagunya, ada persoalan yang jauh lebih rumit: ketika seseorang yang sudah memiliki pasangan justru membuka ruang untuk orang lain.
Dalam sebuah hubungan, perselingkuhan tidak selalu dimulai dengan sebuah pengakuan cinta. Kadang semuanya berawal dari komunikasi yang semakin sering, perhatian yang berlebihan, atau keberanian untuk mendekati seseorang yang seharusnya tidak didekati.
Lirik seperti:
“Potang aku inu'o ponah muarasu'o
ari-ari ku biasuo samieang
Kinin lai rasu'o yang bubeda”
menggambarkan perubahan perasaan yang sebelumnya terasa biasa, kemudian menjadi berbeda.
Bukan lagi sekadar berteman. Bukan lagi sekadar berbicara. Tetapi muncul perasaan baru yang kemudian membawa seseorang semakin jauh dari hubungan yang sedang dijalaninya.
Di sinilah lagu tersebut terasa seperti potret seseorang yang sebenarnya sadar bahwa dirinya sedang berada di jalan yang salah, tetapi tetap membiarkan dirinya terbawa suasana.
Godaan datang, hati berubah, lalu batas-batas dalam sebuah hubungan mulai dilanggar.
Perselingkuhan pun sering kali bukan terjadi dalam satu malam. Ia dapat tumbuh perlahan dari keputusan-keputusan kecil yang terus dibiarkan.
“Mungata... Mungata...” Menjadi Simbol Perubahan
Pengulangan kata “Mungata” dalam bagian refrain menjadi titik penting dalam lagu.
“Mungata... mungata...
Lai rasu'o aneh di dalam ati ko”
Ada rasa aneh yang muncul di dalam hati.
Seseorang mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Ia mungkin masih berada dalam sebuah hubungan, tetapi pikirannya mulai tertuju kepada orang lain.
Pada satu sisi ada pasangan yang telah memberikan kepercayaan. Di sisi lain ada sosok baru yang memberikan sensasi dan perhatian berbeda.
Konflik semacam ini membuat “Mungata” tidak hanya berbicara tentang cinta, tetapi juga tentang godaan, pilihan, dan konsekuensi dari sebuah pengkhianatan.
Yang Sakit Bukan Hanya Perpisahan
Perselingkuhan meninggalkan luka yang berbeda dibandingkan perpisahan biasa.
Perpisahan mungkin terjadi karena dua orang sudah tidak lagi cocok. Tetapi perselingkuhan membawa pertanyaan lain:
Rasa kecewa muncul karena kepercayaan yang diberikan ternyata tidak dijaga.
Karena itu, ketika “Mungata” menyuarakan perubahan perasaan dan godaan untuk mendekati orang lain, pendengar dapat melihat cerita tersebut dari dua sisi: dari orang yang tergoda, sekaligus dari orang yang menjadi korban pengkhianatan.
Menariknya, Lepikal Eka Putra memilih bahasa yang dekat dengan keseharian untuk menyampaikan persoalan yang sebenarnya universal.
Cinta, godaan, perselingkuhan, kecemburuan, dan rasa kecewa adalah pengalaman yang dapat ditemukan di berbagai tempat.
Namun penggunaan bahasa daerah membuat cerita “Mungata” mempunyai identitas tersendiri. Lagu ini terasa seperti sebuah kisah yang benar-benar datang dari lingkungan dan pengalaman masyarakatnya sendiri.
Petikan gitar akustik yang sederhana semakin memperkuat kesan tersebut.
Tidak ada kemewahan yang berlebihan. Yang ditonjolkan justru cerita dan emosi.
Pada akhirnya, “Mungata” dapat dibaca sebagai sebuah cerita tentang bagaimana sebuah hubungan diuji oleh kehadiran orang lain.
Ketika seseorang mulai merasa tertarik kepada orang lain, pilihan tetap berada di tangannya.
Ia bisa menjaga batas dan menghormati hubungan yang sudah dimiliki.
Atau sebaliknya, mengikuti godaan, mendekati orang lain, dan mempertaruhkan kepercayaan yang telah diberikan pasangannya.
Di situlah “Mungata” menjadi lebih dari sekadar lagu tentang cinta. Ia adalah cerita tentang godaan yang terlihat sederhana, tetapi bisa meninggalkan luka yang panjang.
Dengan gitar di tangan dan lirik yang sederhana, Lepikal Eka Putra menyampaikan satu pesan yang terasa kuat:
Perasaan mungkin datang tanpa kita minta, tetapi keputusan untuk mendekati, meninggalkan, atau mengkhianati seseorang tetap merupakan pilihan.
“Mungata” — sebuah cerita tentang hati yang berubah, godaan yang semakin dekat, dan luka yang muncul ketika kesetiaan mulai kehilangan tempat.
Belum ada artikel terkait.
Mantap padek tulisan nyo aku suku'o ?