Masa-masa SMP dahulu menyimpan banyak cerita yang hingga kini masih dikenang. Saat itu, sarana transportasi belum semudah sekarang. Jalan darat masih terbatas, sehingga sungai menjadi jalur utama untuk bepergian. Sampan kecil menjadi alat transportasi sehari-hari, baik untuk pergi ke sekolah, berkunjung ke kampung tetangga, maupun menghadiri kegiatan belajar bersama.
Setiap hari Minggu, rumah keluarga Ayai sering menjadi tempat berkumpul beberapa teman dari kampung lain untuk belajar bersama. Mereka datang membawa buku pelajaran, alat tulis, dan bekal sederhana. Ada yang datang mengayuh sepeda hingga ke tepian sungai, kemudian sepeda dinaikkan ke atas sampan. Ada pula yang mendayung sampan langsung dari kampungnya.
Suasana belajar berlangsung penuh keakraban. Mereka saling membantu mengerjakan soal matematika, berdiskusi tentang pelajaran IPA, membaca buku sejarah, hingga menghafal pelajaran bersama. Sesekali terdengar tawa ketika ada teman yang salah menjawab pertanyaan atau menceritakan pengalaman lucu di sekolah. Walaupun belajar di rumah sederhana, semangat mereka untuk menuntut ilmu tidak pernah berkurang.
Menjelang sore, satu per satu teman berpamitan untuk pulang. Tiga buah sampan kecil mulai bergerak meninggalkan tepian rumah. Masing-masing sampan membawa dua orang penumpang beserta sebuah sepeda yang diletakkan melintang di dalam sampan.
Air sungai saat itu masih cukup tinggi karena musim hujan. Arus mengalir pelan, namun sampan harus dikendalikan dengan hati-hati agar tetap seimbang. Di kiri dan kanan sungai tumbuh semak berduri, pohon-pohon besar, dan tanaman rawa yang memenuhi tepian.
Ketika salah satu sampan melewati bagian sungai yang agak sempit, keseimbangannya terganggu. Sepeda yang berada di sisi sampan perlahan bergeser. Sebelum sempat dipegang, sepeda itu terjatuh ke dalam sungai dengan suara "byur" yang cukup keras.
Semua yang berada di sampan terkejut. Mereka segera menghentikan kayuhan dan memandang ke arah air yang mulai keruh akibat sepeda tenggelam. Karena sungai cukup dalam, hanya sebagian kecil roda sepeda yang sempat terlihat sebelum akhirnya menghilang ke dasar.
Melihat kejadian itu, teman-teman dari dua sampan lainnya segera mendekat untuk memberikan bantuan. Mereka menambatkan sampan di pinggir sungai, lalu beberapa orang yang sudah terbiasa berenang dan menyelam bergantian turun ke dalam air. Dengan meraba dasar sungai menggunakan tangan dan kaki, mereka berusaha mencari posisi sepeda yang tertutup lumpur.
Beberapa kali mereka menyelam, tetapi belum berhasil menemukannya. Arus sungai yang pelan membuat lumpur mudah teraduk sehingga pandangan di dalam air menjadi sangat keruh. Namun mereka tidak menyerah.
Setelah beberapa saat mencari, salah seorang teman merasakan sesuatu yang keras di dasar sungai. Ternyata itu adalah setang sepeda yang tertimbun lumpur. Dengan penuh tenaga, ia menariknya ke permukaan sambil dibantu teman-teman yang berada di atas sampan.
Akhirnya sepeda berhasil diangkat kembali. Semua teman bersorak gembira. Walaupun sepeda dipenuhi lumpur dan air sungai, tidak ada bagian yang rusak. Mereka membersihkannya sebisanya, lalu kembali melanjutkan perjalanan pulang dengan hati-hati sambil sesekali tertawa mengingat kejadian yang baru saja dialami.
Peristiwa sederhana itu menjadi salah satu kenangan yang tidak pernah terlupakan. Tidak ada telepon genggam untuk mengabadikan momen, tidak ada media sosial untuk membagikan cerita, tetapi kebersamaan, kepedulian, dan semangat saling menolong begitu terasa. Ketika seorang teman mengalami kesulitan, semua datang membantu tanpa diminta.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, sungai yang dahulu menjadi jalur utama transportasi mungkin sudah berubah. Jalan darat telah terbuka, kendaraan bermotor telah menggantikan sampan, dan perjalanan menjadi jauh lebih mudah. Namun, kenangan mendayung sampan bersama teman, belajar pada hari Minggu, serta menyelam mencari sepeda yang jatuh ke sungai tetap menjadi bagian indah dari masa SMP yang selalu menghadirkan senyum setiap kali dikenang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.