Open Journal Systems atau OJS menjadi salah satu platform yang banyak digunakan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pengelola jurnal ilmiah untuk menerbitkan artikel secara daring. Platform ini memudahkan pengelolaan naskah, proses peer review, penerbitan jurnal, hingga pengarsipan artikel.
Di balik kemudahan tersebut, situs berbasis OJS juga menjadi salah satu aplikasi web yang perlu mendapatkan perhatian serius dari sisi keamanan.
Sejumlah situs jurnal yang tidak mendapatkan pemeliharaan secara rutin dapat menjadi sasaran aktivitas pihak yang tidak bertanggung jawab. Serangan tersebut dapat berupa perubahan tampilan halaman, penyisipan file atau kode berbahaya, pengambilalihan akun administrator, hingga penyalahgunaan server.
Masalahnya tidak selalu berasal dari OJS itu sendiri. Dalam banyak kasus, keamanan sebuah situs merupakan gabungan antara keamanan aplikasi, konfigurasi server, plugin atau modul tambahan, kredensial administrator, serta cara pengelola melakukan pemeliharaan sistem.
Salah satu persoalan utama adalah penggunaan OJS versi lama.
OJS terus dikembangkan dan diperbarui. Dalam setiap pembaruan, pengembang dapat memperbaiki bug, meningkatkan keamanan, dan menutup kelemahan yang ditemukan pada versi sebelumnya.
Ketika sebuah jurnal tetap menggunakan versi lama selama bertahun-tahun, risiko keamanan dapat meningkat karena kelemahan yang sudah diketahui publik mungkin belum diperbaiki pada sistem tersebut.
Kondisi menjadi lebih berisiko ketika server menggunakan komponen pendukung yang juga sudah tidak mendapatkan pembaruan keamanan.
OJS berjalan dalam lingkungan web server dan bergantung pada sejumlah komponen seperti PHP, database, sistem operasi, web server, serta konfigurasi hosting. Karena itu, memperbarui OJS saja belum tentu cukup untuk mengamankan sebuah situs.
Jika sistem operasi server, PHP, database, atau perangkat lunak web server menggunakan versi yang sudah usang, penyerang masih dapat menemukan titik masuk dari komponen lain.
Titik yang juga perlu mendapat perhatian adalah plugin dan tema.
Pengelola jurnal terkadang memasang plugin tambahan untuk menambahkan fungsi tertentu. Plugin pihak ketiga dapat memperluas kemampuan OJS, tetapi sekaligus menambah komponen yang harus dipelihara.
Semakin banyak komponen tambahan yang dipasang, semakin banyak pula bagian yang harus diperiksa ketika terdapat pembaruan keamanan.
Masalah dapat muncul ketika sebuah plugin tidak lagi dikembangkan, tidak kompatibel dengan versi OJS terbaru, atau memiliki kelemahan yang belum diperbaiki.
Karena itu, pemeriksaan keamanan tidak cukup hanya melihat versi OJS. Plugin, tema, library, dan komponen tambahan juga perlu diperiksa.
Titik penting lainnya berada pada akun administrator.
Akun administrator memiliki hak akses yang sangat besar terhadap sistem. Jika kredensial administrator berhasil diketahui pihak lain, dampaknya dapat jauh lebih serius dibandingkan kelemahan pada halaman publik.
Kata sandi yang mudah ditebak, penggunaan kata sandi yang sama pada beberapa layanan, atau akun administrator yang tidak lagi digunakan tetapi masih aktif dapat meningkatkan risiko pengambilalihan.
Pengelola jurnal juga perlu memperhatikan jumlah akun yang mempunyai hak akses tinggi.
Tidak semua pengguna membutuhkan hak administrator.
Semakin banyak akun dengan hak istimewa, semakin besar pula permukaan risiko yang harus dikelola.
Masalah keamanan juga dapat muncul dari konfigurasi server.
Direktori yang seharusnya tidak dapat diakses secara langsung dapat menjadi masalah apabila konfigurasi server tidak tepat. Begitu pula dengan permission file dan direktori yang terlalu longgar.
Pada server Linux, file aplikasi OJS seharusnya tidak diberikan hak tulis secara sembarangan kepada seluruh pengguna atau proses yang tidak membutuhkannya.
Kesalahan permission dapat memberikan peluang bagi file yang tidak seharusnya berada di dalam aplikasi untuk dibuat atau dimodifikasi.
Konfigurasi upload juga merupakan bagian penting yang perlu diperiksa.
OJS menangani berbagai jenis file yang berkaitan dengan proses penerbitan jurnal. File tersebut dapat berasal dari penulis, editor, reviewer, maupun administrator.
Karena itu, mekanisme upload dan penyimpanan file harus dikonfigurasi dengan benar.
Pengelola tidak seharusnya menganggap semua file yang masuk sebagai file yang aman hanya karena berasal dari pengguna jurnal.
Selain aplikasi dan server, database juga menjadi komponen penting.
Database menyimpan berbagai informasi yang berkaitan dengan jurnal, pengguna, artikel, konfigurasi, serta proses editorial. Jika kredensial database bocor atau akses database terlalu terbuka, dampaknya dapat meluas ke seluruh aplikasi.
Database seharusnya tidak dibuka ke internet tanpa kebutuhan yang jelas.
Akses database juga perlu dibatasi berdasarkan prinsip hak akses minimum.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi pada pengelolaan situs adalah menganggap bahwa situs jurnal tidak menarik bagi penyerang.
Anggapan tersebut keliru.
Situs jurnal tetap merupakan aplikasi web yang terhubung ke internet. Bot otomatis dapat melakukan pemindaian terhadap ribuan bahkan jutaan alamat situs untuk mencari sistem yang menggunakan perangkat lunak dengan kelemahan tertentu.
Penyerang tidak selalu memilih target secara manual.
Dalam banyak kasus, proses pencarian target dilakukan secara otomatis.
Sistem otomatis dapat mencari pola tertentu, versi perangkat lunak yang sudah lama, halaman login, konfigurasi yang terbuka, atau komponen yang diketahui memiliki masalah keamanan.
Itulah sebabnya sebuah jurnal yang tidak pernah merasa memiliki masalah keamanan tetap dapat menjadi sasaran.
Setelah sebuah situs berhasil disusupi, dampaknya juga tidak selalu langsung terlihat.
Serangan dapat berupa perubahan halaman depan, pembuatan akun tidak sah, penyisipan kode, pengubahan file, atau pemasangan perangkat lunak berbahaya.
Dalam kasus tertentu, penyerang dapat berusaha mempertahankan akses agar dapat kembali masuk setelah administrator memperbaiki tampilan situs.
Karena itu, mengembalikan halaman website seperti semula belum tentu berarti server sudah bersih.
Jika sebelumnya terdapat indikasi kompromi, pemeriksaan terhadap file aplikasi, akun pengguna, konfigurasi server, database, log, serta proses yang berjalan perlu dilakukan.
Pertanyaan penting kemudian muncul: di mana sebenarnya celah OJS?
Jawabannya tidak dapat ditentukan hanya dengan menyebut satu lokasi.
Celah keamanan dapat berasal dari beberapa lapisan.
Lapisan pertama adalah aplikasi OJS itu sendiri. Kerentanan pada kode aplikasi dapat ditemukan dan diperbaiki melalui pembaruan resmi.
Lapisan kedua adalah plugin dan komponen tambahan. Komponen tersebut dapat memiliki kelemahan yang berbeda dari inti OJS.
Lapisan ketiga adalah konfigurasi server. Aplikasi yang relatif aman tetap dapat bermasalah apabila web server, permission, direktori, database, atau sistem autentikasinya dikonfigurasi secara keliru.
Lapisan keempat adalah kredensial pengguna. Pengambilalihan akun administrator dapat terjadi tanpa harus mengeksploitasi kelemahan kode apabila kata sandi berhasil diperoleh.
Lapisan kelima adalah infrastruktur. Sistem operasi, PHP, database, web server, panel hosting, dan perangkat lunak lain yang berjalan pada server semuanya menjadi bagian dari permukaan serangan.
Dengan kata lain, keamanan OJS tidak dapat dinilai hanya dari pertanyaan apakah versi OJS sudah terbaru.
Yang harus diperiksa adalah seluruh rantai teknologi yang menjalankan jurnal tersebut.
Pengelola jurnal juga perlu melakukan audit secara berkala.
Audit dapat dimulai dari identifikasi versi OJS, pemeriksaan plugin, pemeriksaan akun administrator, pemeriksaan konfigurasi PHP dan web server, pemeriksaan permission, pemeriksaan log, serta memastikan backup tersedia dan dapat dipulihkan.
Backup menjadi bagian penting karena serangan tidak selalu dapat dicegah seratus persen.
Namun backup harus diperlakukan sebagai bagian dari strategi keamanan, bukan sekadar salinan file.
Backup yang baik seharusnya memiliki salinan terpisah dan tidak selalu dapat diubah atau dihapus oleh akun server yang sama dengan aplikasi utama.
Pemantauan log juga memiliki peran penting.
Log dapat membantu administrator mengetahui kapan aktivitas mencurigakan mulai terjadi, akun mana yang digunakan, alamat jaringan yang melakukan akses, serta perubahan apa yang terjadi sebelum sebuah insiden ditemukan.
Jika sebuah situs OJS berulang kali diretas setelah diperbaiki, masalahnya kemungkinan bukan sekadar halaman depan yang pernah diubah.
Ada kemungkinan masih terdapat akun yang disusupi, file berbahaya yang tertinggal, plugin bermasalah, konfigurasi yang belum diperbaiki, atau komponen server yang masih rentan.
Karena itu, tindakan mengganti tampilan website atau mengunggah ulang file OJS tanpa melakukan pemeriksaan menyeluruh dapat membuat masalah kembali terjadi.
Pengelola jurnal perlu melihat keamanan sebagai proses yang berjalan terus-menerus.
OJS yang aman bukan hanya OJS yang baru dipasang.
Keamanan juga ditentukan oleh bagaimana sistem tersebut diperbarui, bagaimana administrator mengelola akun, bagaimana server dikonfigurasi, bagaimana plugin dipilih, serta bagaimana insiden ditangani ketika terjadi.
Bagi perguruan tinggi dan lembaga penelitian, keamanan OJS menjadi semakin penting karena situs jurnal tidak hanya menyimpan halaman publik.
Di belakangnya terdapat akun penulis, editor, reviewer, metadata artikel, dokumen naskah, serta informasi administrasi jurnal.
Ketika sistem berhasil ditembus, dampaknya dapat menyentuh lebih dari sekadar tampilan website.
Pada akhirnya, persoalan keamanan OJS bukan semata-mata mengenai apakah platform tersebut memiliki celah.
Setiap perangkat lunak yang terhubung ke internet memiliki kemungkinan menghadapi kerentanan baru.
Persoalan yang lebih penting adalah seberapa cepat kerentanan tersebut ditangani dan seberapa baik pengelola mengamankan lingkungan tempat OJS berjalan.
OJS yang selalu diperbarui, plugin yang terkontrol, akun administrator yang terlindungi, konfigurasi server yang tepat, permission yang ketat, backup yang baik, serta pemantauan log akan membuat risiko serangan jauh lebih sulit untuk berkembang menjadi insiden besar.
Bagi pengelola jurnal, keamanan seharusnya tidak menunggu sampai website berubah tampilan atau database bermasalah.
Pemeriksaan keamanan perlu dilakukan sebelum serangan terjadi.
Belum ada artikel terkait.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.