Di tengah perkembangan teknologi penangkapan ikan yang semakin modern, sebagian masyarakat masih mempertahankan cara-cara tradisional yang diwariskan turun temurun. Salah satunya adalah mengoca ikan di bangka kayu, sebuah tradisi mencari ikan di batang pohon besar yang tumbang dan memiliki rongga berisi air.
Bangka kayu merupakan batang pohon tua yang roboh secara alami. Seiring berjalannya waktu, bagian dalam batang membusuk hingga membentuk lubang yang mampu menampung air. Kondisi tersebut menjadikan bangka kayu sebagai tempat berlindung berbagai jenis ikan air tawar, seperti ikan gabus, ikan lele.
Untuk menangkap ikan, masyarakat menggunakan tawas dari akar kayu. Tawas tersebut dipakai untuk mengaduk air di dalam rongga bangka kayu secara perlahan. Proses yang dikenal dengan istilah mengoca ini membuat ikan yang bersembunyi keluar dari tempat persembunyiannya sehingga mudah ditangkap dan ditangguk.
Berbeda dengan cara penangkapan yang menggunakan bahan kimia atau alat yang merusak lingkungan, mengoca dilakukan secara alami dengan memanfaatkan pengetahuan tentang perilaku ikan. Karena itu, tradisi ini dinilai lebih ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem di sekitarnya.
Meski zaman terus berubah, tradisi mengoca ikan di bangka kayu masih dapat dijumpai dikampung kampung hingga sekarang.
Hasil yang diperoleh memang tidak selalu banyak, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain menjadi sumber pangan, kegiatan mengoca juga menjadi momen kebersamaan ketika dilakukan secara berkelompok.
Keberadaan tradisi ini menunjukkan bahwa kearifan lokal tetap memiliki tempat di tengah kehidupan modern. Selama hutan dan lingkungan alam tetap terjaga, mengoca ikan di bangka kayu diyakini akan terus menjadi bagian dari budaya masyarakat yang patut dilestarikan sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.