Dulu, musim hujan bukan hanya membuat tanah kampung menjadi basah dan udara terasa sejuk. Bagi sebagian orang, hujan juga menjadi pertanda akan datangnya **rezeki kecil dari kebun karet**.
Beberapa hari selepas hujan turun, orang kampung biasanya mulai memperhatikan batang-batang kayu yang sudah mati dan tumbang di kebun. Di atas kayu yang telah lapuk itulah sering muncul **cendawan kukuran**, tumbuh kecil-kecil dan bergerombol.
Bagi anak-anak dan orang tua yang sudah biasa mencari hasil hutan dan kebun, menemukan cendawan kukuran menjadi kegembiraan tersendiri. Mereka berjalan menyusuri kebun karet, melihat satu per satu batang kayu tumbang.
Kalau sudah terlihat cendawan kecil menempel di permukaan kayu, tangan pun mulai sibuk memetik.
Tidak perlu banyak. Kalau satu batang kayu sedang banyak ditumbuhi, hasilnya sudah cukup untuk dibawa pulang dan dimasak bersama keluarga.
Sesampainya di rumah, cendawan kukuran dibersihkan. Kemudian disiapkan bumbu gulai kampung.
Ikan salai dimasukkan ke dalam gulai bersama cendawan kukuran. Kuah santan yang gurih, bumbu yang harum, ditambah aroma khas ikan salai berpadu menjadi satu.
Masakan sederhana seperti itu bisa membuat orang menambah nasi berkali-kali. Tidak ada daging mahal, tidak ada bahan makanan mewah. Hanya cendawan yang ditemukan di kebun, ikan salai, bumbu dapur, dan tangan seorang ibu yang memasaknya dengan penuh rasa.
Keistimewaan cendawan kukuran justru karena tidak bisa ditemukan setiap saat Ia seperti rezeki musiman ketika musim hujan datang, batang-batang kayu mati yang tumbang mulai ditumbuhi cendawan. Tetapi ketika hujan berhenti dan musim panas kembali panjang, cendawan kukuran pun menghilang.
Kebun yang sebelumnya ramai dengan cendawan kecil kembali hanya menyisakan batang kayu tua dan kering.
Itulah sebabnya dahulu, ketika hujan turun beberapa hari berturut-turut, orang kampung sering berkata bahwa sudah waktunya melihat ke kebun.
Hari ini, makanan seperti gulai cendawan kukuran dengan ikan salai mungkin terdengar sederhana. Namun bagi mereka yang pernah merasakannya, makanan tersebut menyimpan kenangan yang jauh lebih mahal daripada harganya.
Begitulah kampung dahulu. Hujan membawa kesegaran, kayu mati membawa cendawan, dan dari dapur lahirlah hidangan sederhana yang sampai sekarang masih membuat rindu.**
Belum ada artikel terkait.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.