Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS

Ikan Pekasam Dibungkus Kulit Kayu Semaung, Warisan Rasa dari Dapur Kampung

08 Aug 2026
Sokai Developer
4 dilihat
0 komentar
Headline, Masakan Kampung

Selepas ikan sungai diperoleh, masyarakat kampung memiliki cara tersendiri untuk mengawetnya. Ikan dibersihkan, diberi garam, kemudian disimpan dalam balutan kulit kayu semaung selama beberapa hari hingga menghasilkan pekasam dengan aroma dan rasa yang khas.

Ikan-ikan sungai yang akan dibuat pekasam terlebih dahulu dibersihkan. Setelah itu, ikan diberi garam dan disusun dengan rapi. Dalam tradisi pengolahan yang diwariskan dari generasi ke generasi, ikan kemudian ditempatkan pada wadah dan **ditutup menggunakan kulit kayu semaung**.

Kulit kayu tersebut menjadi bagian penting dalam proses penyimpanan. Bungkusan dibuat rapat dan diletakkan di tempat yang sesuai. Selama beberapa hari, ikan mengalami proses pemeraman yang membuat teksturnya berubah dan menghadirkan aroma khas pekasam.

Tradisi membuat pekasam tidak terlepas dari kehidupan masyarakat yang dahulu sangat bergantung pada sungai.

Ketika musim ikan tiba dan hasil tangkapan melimpah, tidak seluruh ikan harus segera habis dikonsumsi. Sebagian dapat diolah dan disimpan untuk dimakan pada hari-hari berikutnya.

Cara seperti ini menjadi salah satu bentuk kearifan masyarakat kampung dalam memanfaatkan hasil alam. **Ikan sungai yang diperoleh hari ini dapat menjadi persediaan makanan untuk kemudian hari.**

Tidak diperlukan peralatan modern. Bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dimanfaatkan, mulai dari ikan sungai, garam hingga kulit kayu semaung sebagai penutup ikan dibiarkan menjalani proses pemeraman. Waktu menjadi bagian dari pengolahan tersebut.

Hari pertama, ikan masih terlihat seperti ikan yang baru diberi garam. Memasuki hari berikutnya, perubahan mulai terjadi. Setelah beberapa hari, aroma khas pekasam semakin terasa dan ikan menjadi lebih lunak.

Bagi masyarakat yang sudah terbiasa membuatnya, perubahan tersebut menjadi tanda bahwa pekasam telah memasuki tahap yang diharapkan.

Pekasam kemudian dapat diolah kembali menjadi berbagai hidangan rumahan memasaknya bersama bumbu, atau mengolahnya menjadi menu pendamping nasi.

Penggunaan kulit kayu semaung membuat pengolahan ikan pekasam tidak sekadar berkaitan dengan makanan. Di dalamnya terdapat cerita tentang bagaimana masyarakat dahulu memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar tempat tinggal.

Sebelum berbagai wadah penyimpanan mudah ditemukan seperti sekarang, **alam menjadi bagian dari kehidupan dapur**. Kayu, daun, bambu dan berbagai bahan lainnya digunakan sesuai kebutuhan.

Ikan pekasam yang tersimpan dalam balutan kulit kayu semaung menjadi salah satu gambaran sederhana dari kehidupan tersebut namun bagi masyarakat yang pernah tumbuh dengan tradisi ini, **ikan pekasam bukan sekadar lauk**.

Ia menyimpan cerita tentang dapur sederhana, dan pengetahuan orang-orang terdahulu dalam membuat ikan pekasam dari ikan sungai, garam, dan kulit kayu semaung, lahirlah satu warisan kuliner kampung yang memiliki rasa dan cerita tersendiri.

Bagikan Artikel
Artikel Terkait

Belum ada artikel terkait.

Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.