Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
Permainan Kelereng: Keseruan Anak Kampung Zaman Dulu      Permainan Lempar Bungkus Rokok      Kami Sangka Kayu Meranti, Ternyata Kerbau Jalang      Tiga Tahun Menuntut Ilmu di Sekolah Sederhana, Kenangan yang Tak Pernah Pudar      Buah Putar, Gasing Alami dari Tepi Hutan yang Menghidupkan Masa Kecil      Ketika Penutup Balang Asam Durian Terbang ke Atap Seng: Kisah Musim Durian di Kampung      Buka Usaha Internet Fiber Optik atau WiFi RT/RW Net? Ini Peluang Bisnis yang Semakin Menjanjikan      Review Tanix TX6S 4GB RAM 32GB ROM: Android TV Box Murah yang Masih Layak Dibeli?      Kenangan Banjir Besar Tahun 1990: Di Balik Musibah, Tersimpan Masa Kecil yang Tak Terlupakan      Kenangan Tahun 1991–1992: Saat Sampan Menarik Tangki Minyak Menyeberangi Sungai      Permainan Kelereng: Keseruan Anak Kampung Zaman Dulu      Permainan Lempar Bungkus Rokok      Kami Sangka Kayu Meranti, Ternyata Kerbau Jalang      Tiga Tahun Menuntut Ilmu di Sekolah Sederhana, Kenangan yang Tak Pernah Pudar      Buah Putar, Gasing Alami dari Tepi Hutan yang Menghidupkan Masa Kecil      Ketika Penutup Balang Asam Durian Terbang ke Atap Seng: Kisah Musim Durian di Kampung      Buka Usaha Internet Fiber Optik atau WiFi RT/RW Net? Ini Peluang Bisnis yang Semakin Menjanjikan      Review Tanix TX6S 4GB RAM 32GB ROM: Android TV Box Murah yang Masih Layak Dibeli?      Kenangan Banjir Besar Tahun 1990: Di Balik Musibah, Tersimpan Masa Kecil yang Tak Terlupakan      Kenangan Tahun 1991–1992: Saat Sampan Menarik Tangki Minyak Menyeberangi Sungai     

Kami Sangka Kayu Meranti, Ternyata Kerbau Jalang

07 Aug 2026
Sokai Developer
3 dilihat
0 komentar
Headline, Kenangan, Kisah Nyata

Kenangan Ayah dan Anak Mencari Kayu Balak di Hutan Rawa Tahun 1990-an

Ada satu kenangan masa kecil yang sampai sekarang masih melekat kuat dalam ingatan. Kejadiannya sekitar tahun 1990-an, ketika kehidupan di kampung masih sangat dekat dengan hutan, sungai, dan rawa. Saat itu, saya masih sebaya anak kelas 5 SD ketika diajak ayah masuk ke dalam hutan rawa untuk mencari kayu balak.

Pagi itu kami berangkat menggunakan sampan. Perjalanan menuju hutan rawa bukanlah perjalanan yang mudah. Sampan harus melewati aliran air yang dikelilingi pepohonan dan semak belukar. Air rawa saat itu sedang dalam karena musim banjir.

Saya duduk di bagian belakang sampan sambil memegang dayung. Tugas saya sederhana, tetapi cukup melelahkan untuk anak seusia saya: mendayung sampan agar tetap bergerak mengikuti arah yang dituju.

Ayah berada di bagian depan sambil memperhatikan keadaan hutan. Sesekali beliau menunjuk ke arah tertentu, mencari pohon yang kira-kira bisa dijadikan kayu balak.

Setelah cukup jauh masuk ke dalam hutan rawa, akhirnya kami menemukan sebuah pohon besar batangnya besar dan tinggi. Dari bentuk serta kulit kayunya, kami mengira pohon tersebut adalah kayu meranti. Saat itu kami memang tidak terlalu memahami jenis-jenis kayu secara mendalam.

Kami kemudian memutuskan untuk menebangnya karena air sedang tinggi, pekerjaan dilakukan dari atas sampan. Ayah mulai menebang bagian batang pohon dengan alat beliung yang dibawa dari kampung.

Saya hanya bisa membantu sebisanya. Sampan harus dijaga agar tetap berada di sekitar pohon dan tidak hanyut ketika ayah bekerja.

Setelah cukup lama ditebang, akhirnya pohon besar itu mulai miring.

Krek... krek...

Suara batang kayu yang mulai retak terdengar di tengah sunyinya hutan.

Batang kayu yang besar itu kemudian dipotong-potong menggunakan arit. Kami berusaha membuatnya menjadi beberapa bagian agar lebih mudah dibawa keluar dari hutan.

Air rawa yang sedang tinggi akibat banjir justru membantu kami. Kayu-kayu tersebut bisa diapungkan dan duduk diatasnya sambil mendayung, saya terus mendayung. Ayah mengatur kayu dan memastikan semuanya bisa dibawa keluar.

Akhirnya kami berhasil membawa kayu tersebut menuju kampung saat itu kami merasa senang. Kami mengira telah mendapatkan kayu meranti yang bagus namun, ternyata cerita sebenarnya baru dimulai malam hari.

Setelah sampai di kampung, kami beristirahat malam semakin larut tiba-tiba badan mulai terasa gatal awalnya saya mengira hanya karena terkena air rawa atau semak-semak ketika berada di hutan tetapi rasa gatal semakin terasa kaki gatal tangan gatal badan juga terasa gatal ayah pun mengalami hal yang sama kami benar-benar tidak mengerti apa penyebabnya padahal selama berada di hutan, kami merasa tidak mengalami apa-apa.

Kemudian orang-orang di kampung melihat kayu yang kami bawa ketika kami menceritakan bahwa kami mengira kayu tersebut adalah meranti, mereka justru memberitahu sesuatu yang membuat kami terkejut.

“Itu bukan meranti. Itu kayu kerbau jalang.”

Kami pun baru mengetahui bahwa pohon yang kami tebang ternyata adalah kayu kerbau jalang kayu tersebut memiliki getah yang dapat menyebabkan rasa gatal apabila terkena kulit.

Ternyata selama menebang, memotong, menarik, dan membawa kayu itu, getahnya sudah mengenai tubuh kami. Kami tidak menyadarinya karena saat itu masih berada di tengah hutan dan sibuk bekerja pantas saja ketika malam tiba, badan dan kaki kami terasa gatal.

Sekarang kalau mengingat kejadian itu, saya sering tersenyum sendiri Sebuah pengalaman sederhana dari masa kecil, tetapi justru menjadi salah satu kenangan yang paling kuat tidak ada alat modern. Tidak ada mesin. Hanya ada sampan kecil, dayung, arit, kayu balak, hutan rawa, dan seorang ayah bersama anaknya.

Saya masih bisa membayangkan kembali suasana waktu itu—duduk di belakang sampan, mendayung perlahan di tengah hutan rawa yang airnya sedang dalam, sementara ayah bekerja mencari kayu.

Kini zaman sudah berubah. Hutan semakin berbeda, kehidupan kampung pun tidak seperti dahulu. Kami berangkat ke hutan untuk mencari kayu meranti. Kami pulang membawa kayu kerbau jalang—dan bonusnya, semalaman badan kami gatal.

Itulah salah satu cerita masa kecil yang mungkin sederhana bagi orang lain, tetapi bagi saya, kenangan bersama ayah di hutan rawa pada tahun 1990-an adalah cerita yang tidak akan pernah terlupakan.

Bagikan Artikel
Artikel Terkait

Belum ada artikel terkait.

Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.