Tahun 1990 menjadi salah satu kenangan yang tidak pernah saya lupakan. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar. Kampung kami dilanda banjir besar yang merendam hampir seluruh permukiman selama berbulan-bulan. Bagi orang dewasa, banjir adalah musibah. Namun bagi kami yang masih anak-anak, banjir juga menjadi bagian dari cerita masa kecil yang penuh kebersamaan dan kebahagiaan sederhana.
Air sungai terus meluap hingga menggenangi rumah-rumah penduduk. Sebagian besar masyarakat harus menjalani aktivitas sehari-hari dengan menggunakan perahu kecil atau berjalan di dalam air. Jalan kampung yang biasanya ramai berubah menjadi seperti sungai. Rumah-rumah kayu berdiri di atas genangan air yang tak kunjung surut.
Pada masa itu listrik belum masuk ke kampung kami. Hanya beberapa keluarga yang memiliki ekonomi lebih mampu menggunakan mesin diesel sebagai pembangkit listrik sendiri. Suara mesin diesel biasanya mulai terdengar saat malam tiba, menerangi beberapa rumah dengan lampu listrik sederhana.
Sementara itu, sebagian besar masyarakat yang belum mampu tetap mengandalkan pelita minyak tanah atau lampu colok sebagai penerangan. Cahaya kuning redup dari pelita menjadi teman setiap malam. Walaupun sederhana, suasana malam terasa hangat karena keluarga berkumpul sambil bercerita, berbincang, atau menikmati secangkir kopi dan teh.
Setiap sore setelah selesai membantu orang tua, kami anak-anak langsung berkumpul. Banjir yang bagi orang dewasa menjadi kesulitan, bagi kami justru berubah menjadi tempat bermain yang sangat luas.
Kami mandi bersama di air banjir, berenang dari satu rumah ke rumah lainnya, saling kejar-kejaran, hingga berlomba menyelam. Salah satu permainan yang paling kami sukai adalah melompat dari beranda rumah langsung ke air banjir sambil tertawa riang. Tidak ada kolam renang, tidak ada permainan modern, tetapi kebahagiaan terasa begitu sederhana.
Terkadang kami berenang cukup jauh bersama teman-teman tanpa mengenal lelah. Tawa dan canda selalu terdengar memenuhi kampung setiap sore. Meski orang tua sesekali mengingatkan agar berhati-hati, kenangan masa kecil itu tetap menjadi bagian terindah dalam hidup kami.
Banjir memang membawa kesulitan bagi masyarakat. Aktivitas sehari-hari menjadi terbatas dan banyak pekerjaan terganggu. Namun, masyarakat kampung selalu percaya bahwa setelah kesulitan akan datang rezeki.
Ketika air mulai surut setelah berbulan-bulan menggenangi kampung, tibalah musim yang paling dinantikan, yaitu panen ikan, para nelayan memperoleh hasil tangkapan yang melimpah. Masyarakat juga ikut menangkap ikan menggunakan jaring, bubu, maupun alat tangkap tradisional lainnya. Pasar kampung menjadi ramai karena dipenuhi ikan segar dengan harga yang terjangkau. Hampir setiap rumah menikmati hasil tangkapan sendiri atau membeli ikan dari para nelayan.
Saat itulah masyarakat kembali tersenyum. Banjir yang sebelumnya membawa kesulitan ternyata juga menghadirkan berkah berupa hasil tangkapan ikan yang melimpah.
Kini puluhan tahun telah berlalu. Kampung kami telah banyak berubah. Listrik sudah masuk, jalan semakin baik, dan kehidupan masyarakat jauh lebih maju dibandingkan dahulu.
Namun, setiap kali mengingat banjir besar tahun 1990, kenangan itu selalu hadir begitu jelas. Saya teringat saat masih duduk di kelas 6 SD, bermain bersama teman-teman di tengah banjir, menikmati malam yang hanya diterangi cahaya pelita, serta melihat masyarakat saling membantu menghadapi kesulitan.
Banjir memang sebuah musibah, tetapi dari peristiwa itu saya belajar tentang kebersamaan, kesederhanaan, gotong royong, dan rasa syukur. Di balik genangan air yang berlangsung berbulan-bulan, tersimpan kisah masa kecil yang mungkin tidak akan pernah bisa terulang lagi. Kenangan itulah yang hingga hari ini tetap hidup dalam ingatan, menjadi bagian berharga dari perjalanan hidup dan sejarah kampung kami.
Belum ada artikel terkait.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.