Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
Ketika Penutup Balang Asam Durian Terbang ke Atap Seng: Kisah Musim Durian di Kampung      Buka Usaha Internet Fiber Optik atau WiFi RT/RW Net? Ini Peluang Bisnis yang Semakin Menjanjikan      Review Tanix TX6S 4GB RAM 32GB ROM: Android TV Box Murah yang Masih Layak Dibeli?      Kenangan Banjir Besar Tahun 1990: Di Balik Musibah, Tersimpan Masa Kecil yang Tak Terlupakan      Kenangan Tahun 1991–1992: Saat Sampan Menarik Tangki Minyak Menyeberangi Sungai      PC Mini Dijadikan Server: Solusi Hemat, Ringkas, dan Andal untuk Berbagai Kebutuhan      Pentil Sepeda, Permainan Masa Kecil Anak Kampung yang Kini Tinggal Kenangan      Meriam Bambu, Tradisi Ramadan yang Penuh Kenangan      Meriam Bambu Mini, Permainan Anak yang Selalu Hadir Saat Bulan Puasa      Tuai Padi Tradisional di Kampung Zaman Dulu      Ketika Penutup Balang Asam Durian Terbang ke Atap Seng: Kisah Musim Durian di Kampung      Buka Usaha Internet Fiber Optik atau WiFi RT/RW Net? Ini Peluang Bisnis yang Semakin Menjanjikan      Review Tanix TX6S 4GB RAM 32GB ROM: Android TV Box Murah yang Masih Layak Dibeli?      Kenangan Banjir Besar Tahun 1990: Di Balik Musibah, Tersimpan Masa Kecil yang Tak Terlupakan      Kenangan Tahun 1991–1992: Saat Sampan Menarik Tangki Minyak Menyeberangi Sungai      PC Mini Dijadikan Server: Solusi Hemat, Ringkas, dan Andal untuk Berbagai Kebutuhan      Pentil Sepeda, Permainan Masa Kecil Anak Kampung yang Kini Tinggal Kenangan      Meriam Bambu, Tradisi Ramadan yang Penuh Kenangan      Meriam Bambu Mini, Permainan Anak yang Selalu Hadir Saat Bulan Puasa      Tuai Padi Tradisional di Kampung Zaman Dulu     

Ketika Penutup Balang Asam Durian Terbang ke Atap Seng: Kisah Musim Durian di Kampung

04 Aug 2026
Sokai Developer
11 dilihat
0 komentar
Headline, Kenangan

Tahun 1986 zaman dulu. Bagi masyarakat kampung, musim durian bukan sekadar musim menikmati buah yang jatuh dari pohonnya. Ketika durian mulai berjatuhan di kebun, suasana kampung pun berubah. Hampir setiap rumah memiliki cerita sendiri tentang durian—ada yang dimakan bersama keluarga, dibagikan kepada tetangga, dijual, dibuat lempok, dan sebagian lagi disimpan menjadi asam durian atau tempoyak.

Pada masa itu, belum banyak pilihan wadah seperti sekarang. Balang kaca besar menjadi tempat yang sangat berharga di dapur-dapur rumah kampung. Salah satunya digunakan untuk menyimpan daging durian yang akan dijadikan asam durian.

Daging durian yang sudah dipisahkan dari bijinya dimasukkan ke dalam balang kaca besar. Warnanya kuning pekat, memenuhi hampir seluruh bagian balang kemudian ditutup dan disimpan untuk menjalani proses fermentasi.

Asam durian sendiri memang dibuat dari daging durian yang difermentasi. Dalam prosesnya, bakteri asam laktat berperan mengubah daging durian hingga menjadi lebih asam, lembut, dan memiliki aroma khas. Fermentasi tradisional biasanya berlangsung pada suhu ruang selama beberapa hari.

Namun, masyarakat kampung tahun 1986 tentu belum mengenal istilah-istilah ilmiah tentang fermentasi seperti sekarang. Mereka hanya mengenal pengalaman yang diwariskan dari orang tua: durian dimasukkan ke balang, ditutup, lalu ditunggu sampai menjadi asam durian atau tempoyak.

Balang tempat asam durian itu diletakkan di sudut rumah, bersandar dekat dinding papan. Pada pagi hari semuanya terlihat biasa saja. Tutupnya masih berada di tempatnya tetapi ketika matahari mulai meninggi dan udara kampung semakin panas, terdengar suara yang cukup mengejutkan.

“Tak!”

Penutup balang tiba-tiba terpental bukan jatuh ke lantai, melainkan melambung ke atas dan mengenai atap seng rumah.

“Tang!”

Suara penutup kayu yang menghantam seng membuat orang di dalam rumah terkejut. Ada yang keluar melihat apa yang terjadi. Setelah ditemukan, penutup tersebut dipasang kembali namun kejadian itu ternyata belum selesai menjelang siang, ketika panas matahari semakin terasa, terdengar lagi suara yang sama.

“Takkk!”

Penutup balang kembali terpental dan melayang ke atas, lalu membentur atap seng.

Kejadian tersebut berulang beberapa kali orang kampung tentu saja belum mengenal istilah tekanan gas hasil fermentasi sebagaimana dipahami sekarang. Yang mereka tahu, setiap kali hari semakin panas, penutup balang seperti tidak mau diam.

Karena tidak ingin penutup balang kembali terbang ke atap seng, akhirnya muncul akal sederhana: penutup balang dibalikkan.

Bagian yang biasanya berada di atas dibuat menghadap ke bawah. Tujuannya sederhana, supaya ketika tekanan dari dalam kembali mendorong, penutup tidak mudah terlempar tinggi ke atas cara itu dianggap cukup masuk akal pada saat itu tetapi ternyata ada satu hal yang tidak diperhitungkan tidak lama kemudian terdengar suara yang jauh lebih keras.

“BRAKKK!”

Balang kaca itu pecah pecahan kaca berserakan di sekitar tempat penyimpanannya. Asam durian yang seharusnya disimpan untuk persediaan beberapa waktu akhirnya tumpah kejadian tersebut tentu membuat orang rumah terkejut jika dipikir kembali sekarang, kejadian itu cukup masuk akal secara ilmiah. Fermentasi asam durian berlangsung dalam kondisi minim oksigen dan melibatkan aktivitas mikroorganisme. Proses tersebut dapat menghasilkan gas. Ketika gas terperangkap di dalam wadah yang tertutup rapat, tekanan dapat meningkat. Penelitian mengenai asam durian juga mencatat proses fermentasi pada suhu ruang sekitar 28–34°C.

Panas siang hari mungkin ikut membuat kondisi di dalam wadah semakin tidak menguntungkan. Tetapi penyebab pasti balang tersebut pecah tentu tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan cerita, karena bisa saja dipengaruhi oleh tekanan fermentasi, suhu, kondisi kaca, atau gabungan beberapa faktor.

Yang jelas, membalikkan penutup ternyata bukan solusi untuk menghilangkan tekanan yang terbentuk di dalam balang kisah balang asam durian itu mungkin terlihat sederhana. Hanya sebuah balang kaca, daging durian, penutup kayu, dan panas matahari namun bagi keluarga yang mengalaminya, kejadian itu menjadi cerita yang tidak mudah dilupakan.

Pada zaman ketika informasi belum mudah didapat seperti sekarang, masyarakat belajar dari pengalaman. Tidak ada internet untuk mencari tahu mengapa penutup balang bisa terbang. Tidak ada alat untuk mengukur tekanan di dalam wadah. Yang ada hanyalah pengamatan dan pengalaman sehari-hari.

Musim durian menjadi musim yang ditunggu-tunggu. Durian yang berlimpah tidak semuanya harus habis dimakan hari itu. Sebagiannya diawetkan menjadi tempoyak agar bisa dinikmati ketika musim durian telah berlalu.

Dari daging durian yang dipisahkan dari bijinya, lahirlah makanan tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Melayu. Asam durian kemudian digunakan sebagai bumbu, terutama untuk berbagai masakan ikan dan sambal.

Kini, puluhan tahun kemudian, kejadian itu bukan lagi sekadar cerita tentang balang yang pecah. Ia menjadi bagian kecil dari kenangan kehidupan kampung ketika masyarakat memanfaatkan hasil kebun semaksimal mungkin, membuat makanan dengan cara sederhana, dan belajar memahami alam melalui pengalaman.

Musim durian datang dan pergi, tetapi cerita tentang asam durian dan balang yang “meledak” itu tetap tinggal dalam ingatan.

Bagikan Artikel
Artikel Terkait

Belum ada artikel terkait.

Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.