Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?      OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?     

Tiga Tahun Menuntut Ilmu di Sekolah Sederhana, Kenangan yang Tak Pernah Pudar

06 Aug 2026
Sokai Developer
35 dilihat
0 komentar
Headline, Kenangan

Di balik bangunan sekolah yang sederhana, berdinding papan dengan atap seng, tersimpan ribuan cerita yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Sekolah itu berdiri di tengah suasana pedesaan, dikelilingi hamparan lalang, kebun rambutan, dan kebun karet yang membentang. Jauh dari hiruk-pikuk kota, justru di sanalah semangat belajar tumbuh begitu kuat.

Selama tiga tahun menempuh pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), setiap langkah menuju sekolah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang penuh makna. Udara pagi yang masih segar, suara burung dari pepohonan, serta embun yang masih menempel di rerumputan menjadi pemandangan yang selalu menemani sebelum bel masuk berbunyi.

Gedung sekolah mungkin tidak semegah sekolah-sekolah masa kini. Lantainya sederhana, dindingnya dari papan, dan halaman depannya berupa tanah yang ditumbuhi rumput liar. Namun, bagi kami, tempat itu adalah rumah kedua yang membentuk karakter, persahabatan, dan cita-cita.

Di sebelah dan belakang sekolah terbentang kebun rambutan dan kebun karet. Saat musim rambutan tiba, pohon-pohon dipenuhi buah berwarna merah yang menggoda. Ketika angin berhembus, aroma tanah dan dedaunan bercampur menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Sementara deretan pohon karet yang menjulang tinggi memberikan kesejukan sekaligus menjadi saksi perjalanan kami menuntut ilmu.

Yang paling membanggakan adalah kelas kami. Saat itu, lokal kami menjadi kelas dengan jumlah siswa terbanyak dibandingkan lokal lainnya kami berasal dari berbagai desa, tetapi di dalam kelas kami adalah satu keluarga besar.

Guru-guru mengajar dengan penuh kesabaran. Mereka bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, kejujuran, kerja keras, dan rasa saling menghormati. Dari sekolah sederhana itulah kami belajar bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh megahnya bangunan, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar.

Kini, bertahun-tahun telah berlalu. Sebagian teman telah merantau, bekerja, menjadi guru, pegawai, pengusaha, petani, bahkan membangun keluarga masing-masing. Meski jalan hidup berbeda, kenangan selama tiga tahun di sekolah sederhana itu tetap menyatukan kami dalam cerita yang sama.

Setiap kali melihat kembali foto sekolah itu, ingatan seakan kembali ke masa lalu. Tiang bendera yang berdiri tegak di halaman, ruang guru yang sederhana, deretan ruang kelas, serta latar belakang kebun dan hutan seolah menghidupkan kembali suara bel sekolah, tawa teman-teman, dan langkah kaki menuju ruang belajar.

Sekolah itu mungkin sederhana di mata orang lain, tetapi bagi kami, di sanalah mimpi mulai dirajut. Di sanalah persahabatan dibangun. Di sanalah kami belajar bahwa ilmu pengetahuan tidak diukur dari megahnya gedung, melainkan dari ketekunan, semangat, dan perjuangan setiap anak yang duduk di bangku-bangku kayu sederhana.

Sekolah sederhana itu mungkin telah banyak berubah, tetapi kenangannya akan tetap hidup selamanya—menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak akan pernah tergantikan.

Bagikan Artikel
Artikel Terkait

Belum ada artikel terkait.

Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.