Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
Kenangan Pulang Berjalan Kaki dari Sungai Rangau ke Sekapas pada Awal Tahun 1990-an    Radio di Pucuk Pohon Mangga untuk Menangkap Siaran Malaysia Sekitar Tahun 1990-an    Kenangan Menjaga Ladang dari Serangan Monyet    Perjuangan Menempuh Pendidikan Saat Banjir Melanda    Perjuangan Perjalanan Menggapai Cita-Cita    Menangkap Ikan Kupiek Dengan Menahan Guntang Ala Tradisional    Asyiknya Memopeh Ikan Bada    Asyiknya Mencari Alo-Alo (Lokan) di Sungai Rokan    Kenangan Tak Terlupakan: Menjala Udang Galah di Simpang Tiga Sungai Rangau    Kenangan Masa SMP: Sepeda Jatuh ke Sungai Saat Pulang Belajar    Kenangan Pulang Berjalan Kaki dari Sungai Rangau ke Sekapas pada Awal Tahun 1990-an    Radio di Pucuk Pohon Mangga untuk Menangkap Siaran Malaysia Sekitar Tahun 1990-an    Kenangan Menjaga Ladang dari Serangan Monyet    Perjuangan Menempuh Pendidikan Saat Banjir Melanda    Perjuangan Perjalanan Menggapai Cita-Cita    Menangkap Ikan Kupiek Dengan Menahan Guntang Ala Tradisional    Asyiknya Memopeh Ikan Bada    Asyiknya Mencari Alo-Alo (Lokan) di Sungai Rokan    Kenangan Tak Terlupakan: Menjala Udang Galah di Simpang Tiga Sungai Rangau    Kenangan Masa SMP: Sepeda Jatuh ke Sungai Saat Pulang Belajar   

Asyiknya Memopeh Ikan Bada

20 Jul 2026
Sokai Developer
1 views
Kenangan

Di sepanjang aliran Sungai Rokan, masih ada satu kebiasaan lama yang tetap digemari masyarakat, yaitu mempopeh ikan bada. Aktivitas memancing ikan kecil yang hidup bergerombol di permukaan air ini bukan sekadar mencari lauk, tetapi juga menjadi hiburan yang menghadirkan ketenangan di tengah alam.

Saat air sungai mulai surut, hamparan pasir dan batu kerikil muncul di bagian tengah sungai. Di sisi kiri dan kanan, air yang jernih hanya setinggi lutut orang dewasa. Kondisi inilah yang menjadi tempat favorit untuk memopeh ikan bada.

Peralatan yang digunakan pun sangat sederhana. Sebatang joran pendek dari buluh dipilih karena ikan bada biasa berenang di permukaan air, sehingga tidak memerlukan joran yang panjang. Di dada, para pemancing menggantungkan lako, yaitu kantong yang dianyam dari daun pandan. Setiap ikan yang berhasil dipancing langsung dimasukkan ke dalam lako sehingga kedua tangan tetap leluasa memegang joran.

Mempopeh ikan bada membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Umpan dilempar perlahan ke arah gerombolan ikan yang sedang bermain di permukaan. Begitu pelampung atau ujung tali bergerak, joran langsung diayunkan dengan cekatan. Dalam hitungan detik, seekor ikan bada sudah menggantung di ujung kail.

Bagi masyarakat setempat, memopeh ikan bada bukan semata-mata untuk mendapatkan hasil tangkapan. Kegiatan ini juga menjadi cara menikmati keindahan Sungai Rokan yang masih alami. Angin sepoi-sepoi, suara aliran air, serta hijaunya pepohonan di sepanjang tepian sungai menciptakan suasana yang menenangkan.

Tak jarang, kegiatan ini dilakukan bersama keluarga atau sahabat. Anak-anak belajar memancing dari orang tua, sementara orang dewasa saling berbagi cerita sambil menunggu ikan menyambar umpan. Kebersamaan seperti inilah yang membuat tradisi memopeh ikan bada tetap hidup dari generasi ke generasi.

Meski zaman telah berubah dan berbagai alat tangkap modern mulai digunakan, memancing ikan bada dengan joran buluh tetap memiliki daya tarik tersendiri. Kesederhanaan alat, keindahan alam, dan nilai kebersamaan menjadikan memopeh ikan bada sebagai salah satu warisan budaya Sungai Rokan yang patut dijaga dan dilestarikan.


Bagikan Artikel
Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.