Bagi masyarakat yang tumbuh di sepanjang aliran Sungai Rokan, mencari alo-alo atau lokan merupakan salah satu kegiatan yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari. Aktivitas sederhana ini bukan hanya untuk mendapatkan bahan makanan, tetapi juga menjadi hiburan yang menyenangkan, terutama pada saat air sungai mulai surut.
Pada masa dahulu, ketika air Sungai Rokan sedang dangkal, banyak anak-anak, remaja, hingga orang dewasa turun ke tepian sungai untuk mencari alo-alo. Mereka biasanya membawa keranjang rotan atau ember kecil sebagai tempat menyimpan hasil tangkapan. Tidak diperlukan peralatan yang rumit, cukup mengandalkan tangan, ketelitian, dan kesabaran.
Pencarian dilakukan di pinggir sungai yang berlumpur. Para pencari biasanya duduk di dasar sungai sehingga air mencapai dada. Dari posisi tersebut, kedua tangan perlahan-lahan meraba dasar lumpur di sekitar akar pohon, sela-sela batu, atau gundukan pasir. Di situlah alo-alo sering bersembunyi.
Pekerjaan ini memang membutuhkan kesabaran. Terkadang yang diraba hanyalah batu, kayu, atau ranting yang tertimbun lumpur. Namun ketika tangan menyentuh cangkang keras berbentuk bulat, rasa lelah seketika berubah menjadi kegembiraan. Alo-alo yang berhasil ditemukan langsung dimasukkan ke dalam keranjang, lalu pencarian dilanjutkan kembali.
Tidak jarang beberapa orang mencari alo-alo bersama-sama. Mereka saling bercanda, berbagi cerita, bahkan saling menunjukkan lokasi yang dianggap banyak terdapat lokan. Suasana penuh keakraban membuat waktu terasa berjalan begitu cepat. Walaupun tubuh penuh lumpur dan pakaian basah kuyup, semua itu tidak menjadi masalah karena yang dicari bukan hanya hasil tangkapan, tetapi juga kebersamaan.
Semakin lama mencari, keranjang mulai terisi penuh oleh alo-alo dengan berbagai ukuran. Hasil tersebut kemudian dibawa pulang untuk dimasak bersama keluarga. Lokan dapat diolah menjadi berbagai hidangan lezat, seperti gulai lokan, lokan rebus dengan sambal, tumis lokan, atau dimasak dengan santan dan rempah-rempah khas kampung.
Kegiatan mencari alo-alo juga mengajarkan banyak hal. Dari sungai, kami belajar menghargai alam, memahami pasang surut air, mengenali habitat hewan air, serta bersabar dalam setiap usaha. Kami juga belajar bahwa rezeki harus dicari dengan kerja keras dan ketekunan.
Kini, suasana seperti itu mulai jarang ditemui. Banyak anak-anak lebih akrab dengan permainan digital daripada bermain di alam terbuka. Padahal, mencari alo-alo di Sungai Rokan bukan sekadar mencari makanan, tetapi juga menjadi bagian dari budaya dan kenangan masa kecil masyarakat yang hidup di tepian sungai.
Bagi mereka yang pernah mengalaminya, duduk di dasar Sungai Rokan dengan air setinggi dada, meraba lumpur mencari alo-alo, sambil menikmati sejuknya aliran sungai dan semilir angin, adalah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Kenangan itu akan selalu hidup sebagai bagian dari indahnya kehidupan kampung di tepian Sungai Rokan
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.