"Kisah nyata perjalanan sekolah di sebuah kampung pada tahun 1986–1987."
Pendidikan adalah hak setiap anak. Namun, bagi sebagian anak kampung pada era 1980-an, menuntut ilmu bukanlah perjalanan yang mudah. Jalan yang harus dilalui masih berupa tanah, kendaraan sangat terbatas, dan alam sering kali menjadi tantangan yang harus dihadapi sebelum tiba di ruang kelas.
Begitulah kenangan masa kecil yang masih membekas dalam ingatan saya. Sekitar tahun 1986 hingga 1987, ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, setiap pagi saya bersama adik berangkat menuju sekolah dengan sebuah sepeda tua. Saat itu saya duduk di kelas 4 SD, sedangkan adik masih kelas 2 SD. Saya mengayuh sepeda, sementara adik duduk di boncengan belakang.
Perjalanan menuju sekolah melewati jalan tanah selebar kurang lebih empat meter. Di kiri dan kanan jalan terbentang ladang masyarakat yang ditumbuhi semak belukar. Pohon-pohon pisang tumbuh di beberapa sudut kebun, sementara pepohonan hutan masih tampak rapat di kejauhan. Di salah satu sisi jalan terdapat jalan setapak menuju pemakaman kampung yang mulai tertutup ilalang dan semak-semak.
Bagi kami, pemandangan seperti itu adalah hal biasa. Alam adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun, ada satu peristiwa yang tidak pernah saya lupakan.
Suatu pagi, ketika perjalanan menuju sekolah hampir mencapai pertengahan jalan, saya mendadak menghentikan kayuhan sepeda. Dari arah kanan jalan terdengar suara semak yang bergerak. Tak lama kemudian, seekor babi hutan dewasa muncul dari balik rimbunnya semak, disusul kawanan lainnya.
Bukan hanya beberapa ekor.
Puluhan babi hutan menyeberangi jalan secara berurutan. Di barisan depan tampak induk-induk yang berukuran besar, diikuti babi-babi remaja, kemudian anak-anak babi yang masih kecil berjalan rapat mengikuti induknya. Jumlahnya begitu banyak hingga memenuhi badan jalan sebelum akhirnya masuk kembali ke semak di sisi kiri.
Saya dan adik memilih berhenti.
Kami tidak berani melintas. Dalam keadaan seperti itu, tindakan paling aman adalah menunggu hingga seluruh kawanan benar-benar selesai menyeberang. Kami berdiri di samping sepeda sambil memperhatikan rombongan satwa liar tersebut berjalan tanpa tergesa-gesa menuju hutan.
Beberapa menit kemudian, babi terakhir akhirnya menghilang di balik semak.
Barulah saya kembali mengayuh sepeda menuju sekolah.
Peristiwa itu mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi anak-anak kampung pada masa itu, kejadian seperti ini bukan sesuatu yang luar biasa. Jalan menuju sekolah memang masih menyatu dengan alam. Bertemu kawanan babi hutan, monyet, ular, bahkan mendengar suara satwa liar dari dalam hutan merupakan bagian dari perjalanan sehari-hari.
Meski demikian, semangat untuk bersekolah tidak pernah surut. Tidak ada kendaraan antar-jemput, tidak ada jalan beraspal, bahkan ketika musim hujan jalan berubah menjadi lumpur yang licin. Semua itu harus dilewati demi bisa duduk di bangku sekolah dan menerima pelajaran.
Kini, puluhan tahun telah berlalu. Banyak jalan kampung telah berubah menjadi jalan yang lebih baik. Kendaraan semakin mudah dimiliki, dan perjalanan menuju sekolah tidak lagi seberat dahulu.
Namun, setiap kali mengenang masa kecil, saya selalu teringat pagi itu—ketika saya dan adik harus menunggu hingga puluhan babi hutan selesai menyeberang jalan sebelum kembali mengayuh sepeda menuju sekolah.
Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Pendidikan juga mengajarkan kesabaran, keberanian, serta menghormati alam yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kampung.
Jejak-jejak perjuangan seperti inilah yang mungkin tidak lagi banyak dialami oleh anak-anak masa kini. Meski sederhana, kenangan itu menjadi bagian penting dari perjalanan hidup yang tidak akan pernah terlupakan, sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap langkah menuju sekolah pada masa itu adalah langkah menuju masa depan yang diperjuangkan dengan penuh semangat.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.