Sekitar tahun 1987, kehidupan di ladang penuh dengan perjuangan. Saat itu belum ada alat pengusir hama modern. Yang ada hanyalah keberanian, kesabaran, dan semangat menjaga hasil jerih payah keluarga.
Ladang seluas kurang lebih setengah hektar ditanami kacang tanah dan jagung. Di sekeliling ladang berdiri pepohonan hutan yang menjadi tempat tinggal kawanan monyet. Hampir setiap hari, terutama pagi dan sore, monyet-monyet itu datang. Mereka mengintai dari atas dahan, lalu perlahan turun ke tanah ketika keadaan dirasa aman.
Sebagai anak yang ditugaskan menjaga ladang, setiap kali melihat monyet mulai turun, aku segera berlari sambil berteriak dan mengayunkan kayu agar mereka ketakutan. Kawanan monyet pun berlarian kembali ke hutan dan memanjat pohon. Namun, perjuangan belum selesai.
Begitu aku kembali ke pondok untuk beristirahat sejenak, kawanan monyet itu datang lagi. Mereka kembali turun dari dahan pohon, masuk ke ladang, mencabut kacang tanah, memetik jagung, lalu membawa hasil tanaman itu sambil berlari dan memanjat kembali ke atas pohon. Kejadian seperti ini terus berulang berkali-kali dalam sehari.
Begitulah kenangan masa kecil di ladang. Menjaga tanaman bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan, dan semangat agar hasil panen tidak habis dimakan hama. Perjuangan sederhana itu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa pada masa itu dan menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.