Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
Kenangan Pulang Berjalan Kaki dari Sungai Rangau ke Sekapas pada Awal Tahun 1990-an    Radio di Pucuk Pohon Mangga untuk Menangkap Siaran Malaysia Sekitar Tahun 1990-an    Kenangan Menjaga Ladang dari Serangan Monyet    Perjuangan Menempuh Pendidikan Saat Banjir Melanda    Perjuangan Perjalanan Menggapai Cita-Cita    Menangkap Ikan Kupiek Dengan Menahan Guntang Ala Tradisional    Asyiknya Memopeh Ikan Bada    Asyiknya Mencari Alo-Alo (Lokan) di Sungai Rokan    Kenangan Tak Terlupakan: Menjala Udang Galah di Simpang Tiga Sungai Rangau    Kenangan Masa SMP: Sepeda Jatuh ke Sungai Saat Pulang Belajar    Kenangan Pulang Berjalan Kaki dari Sungai Rangau ke Sekapas pada Awal Tahun 1990-an    Radio di Pucuk Pohon Mangga untuk Menangkap Siaran Malaysia Sekitar Tahun 1990-an    Kenangan Menjaga Ladang dari Serangan Monyet    Perjuangan Menempuh Pendidikan Saat Banjir Melanda    Perjuangan Perjalanan Menggapai Cita-Cita    Menangkap Ikan Kupiek Dengan Menahan Guntang Ala Tradisional    Asyiknya Memopeh Ikan Bada    Asyiknya Mencari Alo-Alo (Lokan) di Sungai Rokan    Kenangan Tak Terlupakan: Menjala Udang Galah di Simpang Tiga Sungai Rangau    Kenangan Masa SMP: Sepeda Jatuh ke Sungai Saat Pulang Belajar   

Kenangan Pulang Berjalan Kaki dari Sungai Rangau ke Sekapas pada Awal Tahun 1990-an

22 Jul 2026
Sokai Developer
4 views
Kenangan

Pada awal tahun 1990-an, pesta perkawinan di Desa Sungai Rangau selalu menjadi hiburan yang paling ditunggu oleh anak-anak muda dari Desa Sekapas. Saat ada pertunjukan keyboard pada malam hari, mereka berbondong-bondong menyeberangi Sungai Rokan menggunakan sampan-sampan kecil. Setiap sampan biasanya hanya berisi dua orang dan 1 orang agar lebih aman mengarungi sungai yang lebar.

Sesampainya di seberang, mereka melanjutkan perjalanan dengan mobil oplet menuju lokasi pesta yang berjarak sekitar lima kilometer. Malam itu dipenuhi alunan lagu-lagu populer dan slow rock yang sedang digemari anak muda pada masa itu. Suasana meriah, penuh canda tawa, dan menjadi tempat berkumpulnya para pemuda dari berbagai kampung.

Namun ketika acara selesai sekitar pukul 12 malam semua berubah. Mobil oplet yang tadi mengantar sudah tidak beroperasi lagi. Tidak ada kendaraan yang bisa mengantar mereka kembali ke pelabuhan.

Akhirnya, puluhan anak muda dari Sekapas memutuskan pulang dengan berjalan kaki. Mereka menyusuri jalan tanah selebar sekitar lima meter, yaitu jalan operasional milik Caltex. Di sisi kiri jalan terbentang pipa minyak Caltex yang memanjang mengikuti jalur tersebut. Di kiri dan kanan jalan hanya terlihat semak belukar yang dipenuhi duri dan ilalang tinggi. Tidak ada rumah penduduk, tidak ada warung, hanya jalan panjang yang sunyi.

Malam terasa sangat hening. Cahaya bulan menjadi satu-satunya penerang perjalanan. Sesekali terdengar suara jangkrik, katak, dan hewan malam dari balik semak. Walaupun suasana gelap dan sepi, mereka tetap berjalan bersama-sama sambil mengobrol, bercanda, bahkan sesekali menyanyikan lagu-lagu yang baru mereka dengar di pesta untuk mengusir rasa lelah dan takut.

Perjalanan itu memakan waktu cukup lama hingga akhirnya mereka tiba kembali di pelabuhan Sekapas. Kenangan berjalan kaki di tengah malam, ditemani cahaya bulan, jalan tanah, pipa minyak Caltex, serta semak belukar di kiri dan kanan jalan, menjadi pengalaman yang tidak pernah terlupakan bagi generasi muda pada masa itu.

Kini semua telah berubah. Jalan sudah jauh lebih baik dan sarana transportasi semakin mudah. Namun kisah perjalanan pulang bersama teman-teman di tengah malam setelah menonton pesta perkawinan tetap menjadi kenangan indah yang menggambarkan semangat kebersamaan, persahabatan, dan kehidupan masyarakat tepian Sungai Rokan pada era 1990-an.

Bagikan Artikel
Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.