Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
Buka Usaha Internet Fiber Optik atau WiFi RT/RW Net? Ini Peluang Bisnis yang Semakin Menjanjikan      Review Tanix TX6S 4GB RAM 32GB ROM: Android TV Box Murah yang Masih Layak Dibeli?      Kenangan Banjir Besar Tahun 1990: Di Balik Musibah, Tersimpan Masa Kecil yang Tak Terlupakan      Kenangan Tahun 1991–1992: Saat Sampan Menarik Tangki Minyak Menyeberangi Sungai      PC Mini Dijadikan Server: Solusi Hemat, Ringkas, dan Andal untuk Berbagai Kebutuhan      Pentil Sepeda, Permainan Masa Kecil Anak Kampung yang Kini Tinggal Kenangan      Meriam Bambu, Tradisi Ramadan yang Penuh Kenangan      Meriam Bambu Mini, Permainan Anak yang Selalu Hadir Saat Bulan Puasa      Tuai Padi Tradisional di Kampung Zaman Dulu      Kisah Bayi Perempuan yang Ditukar Orang Bunyian dengan Bayi Lelaki      Buka Usaha Internet Fiber Optik atau WiFi RT/RW Net? Ini Peluang Bisnis yang Semakin Menjanjikan      Review Tanix TX6S 4GB RAM 32GB ROM: Android TV Box Murah yang Masih Layak Dibeli?      Kenangan Banjir Besar Tahun 1990: Di Balik Musibah, Tersimpan Masa Kecil yang Tak Terlupakan      Kenangan Tahun 1991–1992: Saat Sampan Menarik Tangki Minyak Menyeberangi Sungai      PC Mini Dijadikan Server: Solusi Hemat, Ringkas, dan Andal untuk Berbagai Kebutuhan      Pentil Sepeda, Permainan Masa Kecil Anak Kampung yang Kini Tinggal Kenangan      Meriam Bambu, Tradisi Ramadan yang Penuh Kenangan      Meriam Bambu Mini, Permainan Anak yang Selalu Hadir Saat Bulan Puasa      Tuai Padi Tradisional di Kampung Zaman Dulu      Kisah Bayi Perempuan yang Ditukar Orang Bunyian dengan Bayi Lelaki     

Kenangan Tahun 1991–1992: Saat Sampan Menarik Tangki Minyak Menyeberangi Sungai

02 Aug 2026
Sokai Developer
10 dilihat
0 komentar
Headline, Kenangan

Sekitar tahun 1991–1992, sebelum distribusi bahan bakar semudah sekarang, ada sebuah pemandangan setiap bulan sekali terlihat di kampung kami. Bukan karena jalan darat yang sulit, melainkan karena letak rakit minyak berada di seberang sungai. Mobil tangki pengangkut minyak tanah tidak dapat langsung mengisi kerakit tersebut karena aksesnya hanya melalui jalur air.

Setiap kali mobil tangki datang, kendaraan itu berhenti di tepi sungai, tepat di depan kampung. Minyak tanah kemudian dipindahkan dari mobil tangki ke sebuah tangki besi yang mengapung di atas air. Tangki itu bentuknya menyerupai tongkang kecil dengan bagian atas melengkung. Panjangnya sekitar lima meter lebih dan lebarnya lebih dari dua meter. Walaupun terlihat sederhana, tangki besi itu mampu menampung ribuan liter minyak tanah yang nantinya akan dibawa menuju rakit minyak di seberang sungai.

Setelah proses pemindahan selesai, barulah pekerjaan yang paling berat dimulai.

Sebuah sampan kayu panjang dipersiapkan sebagai penarik. Di dalam sampan hanya ada dua orang. Seorang pria dewasa berada di bagian belakang sebagai pengemudi utama, sedangkan di bagian depan membantu mendayung. Tali tambang yang cukup panjang diikat kuat pada buritan sampan, sementara ujung lainnya diikat pada tangki besi yang mengapung di belakang.

Perjalanan dimulai perlahan. Sampan bergerak lebih dulu, sedangkan tangki besi mengikuti dari belakang. Karena isi tangki sangat berat, kayuhan terasa jauh lebih berat dibandingkan saat mendayung sampan kosong. Setiap hentakan dayung harus dilakukan seirama agar sampan tetap stabil menarik beban yang besar.

Sungai yang membelah kampung memiliki lebar sekitar seratus meter lebih. Airnya berwarna kehitaman seperti kopi karena dipengaruhi tanah gambut. Sekilas arus sungai terlihat tenang, namun para pendayung sangat memahami bahwa arus yang tampak pelan tetap mampu menyeret sampan dan tangki ke arah hilir.

Oleh sebab itu, sampan tidak pernah diarahkan lurus menuju rakit minyak. Sejak awal, haluan sengaja dibelokkan sedikit ke arah hulu. Dengan cara itu, ketika arus mendorong ke hilir, posisi sampan dan tangki akan tepat mengarah ke rakit minyak di seberang. Jika langsung diarahkan lurus, tangki bisa hanyut melewati rakit sehingga perjalanan justru menjadi lebih sulit.

Selama sekitar lima belas hingga dua puluh menit, kedua pendayung terus mengayuh tanpa banyak berbicara. Keringat mulai bercucuran membasahi wajah dan pakaian. Tangan terasa pegal, sementara tali penarik tetap tegang menahan beban tangki yang terus mengikuti di belakang. Riak air memanjang dari sampan hingga ke tangki, menjadi jejak perjalanan yang perlahan membelah sungai.

Dari atas sampan tampak deretan rumah panggung masyarakat yang berdiri di tepi sungai. Hampir setiap rumah memiliki titian kayu yang mengarah ke air. Di bawah rumah-rumah itu biasanya tertambat sampan-sampan kecil milik warga yang menjadi alat transportasi sehari-hari.

Semakin mendekati seberang, rakit minyak mulai terlihat jelas. Rakit itu menjadi tempat penyimpanan sekaligus penjualan minyak tanah kepada masyarakat sekitar. Setelah tiba di sisi rakit, tangki besi ditarik perlahan hingga sejajar. Tali kemudian dilepas, dan diikat merapat disisi depan rakit dan kemudian dijual kepada masyarakat.

Bagi anak-anak pada masa itu, pemandangan seperti ini adalah hal yang biasa. Namun di balik kebiasaan tersebut tersimpan perjuangan yang luar biasa. Membawa ribuan liter minyak tanah melintasi sungai hanya dengan tenaga dua orang yang mendayung sampan bukanlah pekerjaan ringan. Dibutuhkan tenaga, pengalaman, kerja sama, dan pemahaman terhadap arus sungai agar perjalanan selalu berjalan dengan aman.

Kini pemandangan seperti itu hampir tidak pernah dijumpai lagi. Cara distribusi bahan bakar sudah berubah mengikuti perkembangan zaman. Meski demikian, kenangan melihat sebuah sampan kecil menarik tangki minyak yang besar melintasi sungai selama belasan menit tetap melekat di ingatan. Suara dayung yang memecah air, tali yang menegang di belakang sampan, serta tetesan keringat para pendayung menjadi bagian dari sejarah kehidupan masyarakat sungai yang tidak akan mudah dilupakan.

Bagikan Artikel
Artikel Terkait

Belum ada artikel terkait.

Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.