Bagi anak-anak kampung pada era 1980-an hingga awal 2000-an, datangnya bulan Ramadan selalu membawa suasana yang berbeda. Selain menjalankan ibadah puasa, sore hingga malam hari diisi dengan berbagai permainan tradisional yang kini mulai jarang ditemui. Salah satunya adalah permainan **meriam bambu**, yang menjadi hiburan khas hingga malam takbiran dan Hari Raya Idulfitri.
Dipagi hari dan siang hari anak anak ditemani orang dewasa mencari kepinggir kampung bambu untuk dijadikan meriam mereka persiapkan peralatan disiang hari dan saat malam hari hanya waktu bermain saja membunyikan meriam bambu
Di banyak kampung, anak-anak dan para remaja berkumpul untuk melihat atau memainkan meriam bambu yang dibuat dari batang bambu berukuran besar. Meriam itu biasanya diletakkan di halaman rumah, lapangan, atau taman kampung sehingga menjadi pusat perhatian warga. Ketika suara letupannya terdengar bergema, anak-anak akan bersorak gembira, sementara orang-orang dewasa tersenyum mengenang masa kecil mereka.
Setelah berbuka puasa anak anak mulai memainkan meriam bambu hingga malam takbiran, suasana kampung terasa semakin meriah. Bunyi meriam bambu yang bergantian dari berbagai sudut kampung seolah menjadi penanda bahwa Ramadan hampir mencapai penghujungnya. Meskipun sederhana, permainan ini mampu mempererat kebersamaan karena dikerjakan dan dinikmati bersama-sama.
Namun, di balik keseruannya, permainan meriam bambu juga memiliki risiko jika tidak berhati hati alis matanya bisa tersambar api ketika meniup pada lobang sumbu meriam Dan tidak sedikit setiap orang memainkan meriam bambu alis mata kena sambar sedikit oleh api dari lobang sumbu meriam.
Seiring berkembangnya zaman, permainan meriam bambu semakin jarang terlihat. Selain karena alasan keselamatan, masyarakat kini lebih memilih cara-cara yang lebih aman untuk memeriahkan suasana Ramadan dan Idulfitri. Meski demikian, kenangan akan dentuman meriam bambu yang menggema di sore hari menjelang berbuka atau pada malam takbiran tetap hidup di hati banyak orang.
Bagi mereka yang pernah mengalaminya, meriam bambu bukan sekadar permainan. Ia adalah bagian dari cerita masa kecil, tentang kebersamaan, semangat menyambut Hari Raya, dan indahnya kehidupan kampung yang penuh canda tawa. Semoga kisah-kisah seperti ini tetap dikenang sebagai warisan budaya, sambil terus mengutamakan keselamatan agar generasi sekarang dapat menikmati tradisi dengan cara yang lebih aman.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.