Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
Perjuangan Menempuh Pendidikan Saat Banjir Melanda    Perjuangan Perjalanan Menggapai Cita-Cita    Menangkap Ikan Kupiek Dengan Menahan Guntang Ala Tradisional    Asyiknya Memopeh Ikan Bada    Asyiknya Mencari Alo-Alo (Lokan) di Sungai Rokan    Kenangan Tak Terlupakan: Menjala Udang Galah di Simpang Tiga Sungai Rangau    Kenangan Masa SMP: Sepeda Jatuh ke Sungai Saat Pulang Belajar    Mengoca Ikan di Bangka Kayu, Tradisi Lama yang Masih Bertahan Hingga Sekarang    Kehidupan Keluarga di Pondok Ladang dan Teror Gajah Liar pada Masa Dahulu    Jejak Perjuangan Pendidikan Anak Kampung Tempo Dulu    Perjuangan Menempuh Pendidikan Saat Banjir Melanda    Perjuangan Perjalanan Menggapai Cita-Cita    Menangkap Ikan Kupiek Dengan Menahan Guntang Ala Tradisional    Asyiknya Memopeh Ikan Bada    Asyiknya Mencari Alo-Alo (Lokan) di Sungai Rokan    Kenangan Tak Terlupakan: Menjala Udang Galah di Simpang Tiga Sungai Rangau    Kenangan Masa SMP: Sepeda Jatuh ke Sungai Saat Pulang Belajar    Mengoca Ikan di Bangka Kayu, Tradisi Lama yang Masih Bertahan Hingga Sekarang    Kehidupan Keluarga di Pondok Ladang dan Teror Gajah Liar pada Masa Dahulu    Jejak Perjuangan Pendidikan Anak Kampung Tempo Dulu   

Kenangan Tak Terlupakan: Menjala Udang Galah di Simpang Tiga Sungai Rangau

20 Jul 2026
Sokai Developer
1 views
Kenangan

Masa SMP merupakan salah satu masa yang paling indah dalam kehidupan. Saat itu belum ada telepon pintar, internet, ataupun permainan digital yang mengisi waktu luang. Setiap akhir pekan menjadi kesempatan untuk mencari pengalaman bersama teman-teman. Salah satu kegiatan yang paling berkesan adalah menjala udang galah di Simpang Tiga Sungai Rangau.

Setiap hari Minggu pagi, saya dan seorang teman berangkat menggunakan sampan kayu kecil menyusuri Sungai Rangau. Kami mengenakan pakaian biasa yang sederhana. Di dalam sampan hanya ada sebuah dayung, jala udang, ember kecil untuk tempat hasil tangkapan, dan sedikit bekal makanan. Perjalanan menuju Simpang Tiga memakan waktu cukup lama, namun rasa lelah tidak pernah terasa karena sepanjang perjalanan kami menikmati pemandangan sungai yang sangat luas, air yang tenang, serta pepohonan hijau yang masih alami di sepanjang tepian.

Simpang Tiga Sungai Rangau merupakan tempat bertemunya beberapa aliran sungai. Arus air di lokasi ini cukup tenang sehingga menjadi habitat yang disukai udang galah. Para nelayan kampung sudah lama mengenal tempat tersebut sebagai salah satu lokasi terbaik untuk menjala udang.

Sesampainya di lokasi, kami mematikan laju sampan dan membiarkannya hanyut perlahan mengikuti arus. Teman saya berdiri di bagian depan sambil memegang jala, sedangkan saya berada di belakang mengendalikan arah sampan dengan dayung agar tetap berada di posisi yang diinginkan.

Dengan satu ayunan yang kuat, jala dilempar hingga mengembang sempurna di atas permukaan air. Sesaat kemudian jala perlahan tenggelam ke dasar sungai. Kami menunggu beberapa saat sebelum menarik tali jala sedikit demi sedikit.

Namun pada lemparan berikutnya, tali jala terasa sangat berat. Awalnya kami mengira jala dipenuhi udang galah berukuran besar. Wajah kami dipenuhi harapan sambil menariknya perlahan-lahan. Akan tetapi, jala sama sekali tidak bergerak.

Ternyata jala tersebut tersangkut pada tunggul kayu besar yang sudah lama berada di dasar sungai. Tunggul itu tidak terlihat dari permukaan karena tertutup air yang keruh. Kami mencoba menarik dari berbagai arah, tetapi jala tetap tidak bisa dilepaskan.

Akhirnya kami sepakat untuk berhenti sejenak. Dengan penuh keberanian, saya turun ke sungai untuk menyelam mencari posisi jala yang tersangkut. Air Sungai Rangau sangat keruh sehingga pandangan hanya beberapa sentimeter saja. Dengan meraba menggunakan tangan, akhirnya saya menemukan tunggul kayu tempat tali jala melilit.

Setelah beberapa kali mencoba melepaskan lilitan di dalam air, akhirnya jala berhasil terbebas. Saya segera naik kembali ke atas sampan dengan napas terengah-engah. Kami tertawa lega karena jala kesayangan tidak sampai hilang.

Setelah diperiksa, ternyata beberapa ekor udang galah masih terperangkap di dalam jala. Walaupun hasil tangkapan hari itu tidak terlalu banyak, rasa bahagia yang kami rasakan jauh lebih besar daripada jumlah udang yang kami bawa pulang.

Perjalanan pulang menjadi penuh cerita. Kami saling mengingat kembali kejadian jala yang tersangkut sambil tertawa sepanjang perjalanan menyusuri Sungai Rangau. Peristiwa sederhana itu mengajarkan kami arti kerja sama, kesabaran, keberanian, dan pentingnya tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Kini, Simpang Tiga Sungai Rangau mungkin telah banyak berubah. Namun setiap kali melihat sungai yang luas atau sebuah sampan kayu, kenangan masa SMP itu selalu hadir kembali. Kenangan menjala udang galah bersama sahabat menjadi bagian dari masa kecil yang tidak akan pernah terlupakan. Bukan karena banyaknya hasil tangkapan, melainkan karena kebersamaan, petualangan, dan pelajaran hidup yang kami dapatkan di tengah sunyinya kehidupan diatas air.


Bagikan Artikel
Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.