Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?      OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?     

Kenangan Tak Terlupakan: Menjala Udang Galah di Simpang Tiga Sungai Rangau

20 Jul 2026
Sokai Developer
90 dilihat
0 komentar
Headline, Kenangan

Masa SMP merupakan salah satu masa yang paling indah dalam kehidupan. Saat itu belum ada telepon pintar, internet, ataupun permainan digital yang mengisi waktu luang. Setiap akhir pekan menjadi kesempatan untuk mencari pengalaman bersama teman-teman. Salah satu kegiatan yang paling berkesan adalah menjala udang galah di Simpang Tiga Sungai Rangau.

Setiap hari Sabtu sore, saya dan seorang teman berangkat menggunakan sampan kayu kecil menyusuri Sungai Rangau. Kami mengenakan pakaian biasa yang sederhana. Di dalam sampan hanya ada sebuah dayung, jala udang, ember kecil untuk tempat hasil tangkapan, umpan udang dari beras yang dibusukkan dan pancang beberapa batang dari bambu kecil sebagai penanda saat melempar umpan nantinya dan sedikit bekal makanan. Perjalanan menuju Simpang Tiga memakan waktu cukup lama, namun rasa lelah tidak pernah terasa karena sepanjang perjalanan kami menikmati pemandangan sungai yang sangat luas, air yang tenang, serta pepohonan hijau yang masih alami di sepanjang tepian.

Teman yang didepan sambil membantu mendayung mendendangkan lagu umpan mimpi dalam mimpi yang ketika itu lagu lagu slow rock Malaysia sangat populer dengan menyanyikan suara keras dikeheningan sungai menambah hiburan diatas sampan 

Simpang Tiga Sungai Rangau merupakan tempat bertemunya beberapa aliran sungai. Arus air di lokasi ini cukup tenang sehingga menjadi habitat yang disukai udang galah. Para nelayan kampung sudah lama mengenal tempat tersebut sebagai salah satu lokasi terbaik untuk menjala udang.

Sesampainya di lokasi, kami mulai memasang pancang dari bambu kecil tadi dan melemparkan umpan beras didekat pancang tersebut dan pancang berikutnya kembali dipasang kira kira berjarak 10 meter setelah semua pancang dipasang waktu itu ada sekitar 10 pancang dan kami berhenti dipinggir sambil beristirahat didalam sampan sambil menunggu beberapa menit setelah berlalu beberapa menit teman saya yang didepan berdiri sambil memegang jala, sedangkan saya berada di belakang mengendalikan arah sampan dengan dayung agar tetap berada di posisi yang diinginkan.

Dimulai dari pancang terakhir arus sungai untuk menjala didekat pancang dan berharap udang galah sudah mulai memakan umpan yang. Kami tebarkan.

Dengan satu ayunan yang kuat, jala dilempar hingga mengembang sempurna di atas permukaan air. Sesaat kemudian jala perlahan tenggelam ke dasar sungai. Kami menunggu beberapa saat sebelum menarik tali jala sedikit demi sedikit.

Alangkah terkejutnya kami udang masuk kedalam jala udang galah hingga kepucuk jala paling atas saat mnarik sambil memintal agar udah yang kena jala pada posisi bawah dekat rantai jalan tidak bisa keluar alhamdulliah hasil tangakapnnudang galah pada masa itu lumayan untuk kami gunakan bayar uang sekolah dan keperluan lainnya.

Namun pada lemparan berikutnya, tali jala terasa sangat berat. Awalnya kami mengira jala dipenuhi udang galah berukuran besar. Wajah kami dipenuhi harapan sambil menariknya perlahan-lahan. Akan tetapi, jala sama sekali tidak bergerak.

Ternyata jala tersebut tersangkut pada tunggul kayu besar yang sudah lama berada di dasar sungai. Tunggul itu tidak terlihat dari permukaan karena tertutup air yang keruh. Kami mencoba menarik dari berbagai arah, tetapi jala tetap tidak bisa dilepaskan.

Akhirnya kami sepakat untuk berhenti sejenak. Dengan penuh keberanian, saya turun ke sungai untuk menyelam mencari posisi jala yang tersangkut. Air Sungai Rangau sangat gelap dan pekat sehingga pandangan hanya beberapa sentimeter saja. Dengan meraba menggunakan tangan, akhirnya saya menemukan tunggul kayu tempat tali jala melilit.

Setelah beberapa kali mencoba melepaskan lilitan di dalam air, akhirnya jala berhasil terbebas. Saya segera naik kembali ke atas sampan dengan napas terengah-engah. Kami tertawa lega karena jala kesayangan tidak sampai rusak.

Setelah diperiksa, ternyata beberapa ekor udang galah masih terperangkap di dalam jala. Walaupun hasil tangkapan hari itu tidak terlalu banyak, rasa bahagia yang kami rasakan jauh lebih besar daripada jumlah udang yang kami bawa pulang.

Perjalanan pulang menjadi penuh cerita. Kami saling mengingat kembali kejadian jala yang tersangkut sambil tertawa sepanjang perjalanan menyusuri Sungai Rangau. Peristiwa sederhana itu mengajarkan kami arti kerja sama, kesabaran, keberanian, dan pentingnya tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Kini, Simpang Tiga Sungai Rangau mungkin telah banyak berubah. Namun setiap kali melihat sungai yang luas atau sebuah sampan kayu, kenangan masa SMP itu selalu hadir kembali. Kenangan menjala udang galah bersama sahabat menjadi bagian dari masa kecil yang tidak akan pernah terlupakan. Bukan karena banyaknya hasil tangkapan, melainkan karena kebersamaan, petualangan, dan pelajaran hidup yang kami dapatkan di tengah sunyinya kehidupan diatas air.


Bagikan Artikel
Artikel Terkait

Belum ada artikel terkait.

Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.