Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
Tuai Padi Tradisional di Kampung Zaman Dulu    Kisah Bayi Perempuan yang Ditukar Orang Bunyian dengan Bayi Lelaki    Legenda Pemuda Kampung yang Konon Diangkat Menjadi Raja Orang Bunyian    Ketika Padi yang Hilang Kembali dari Kaum Bunyian    Kisah yang Dituturkan Turun-Temurun: Saat Manusia dan Orang Bunyian Masih Saling Berhubungan    Kisah Nyata: Cahaya di Dasar Sungai yang Membuat Salat Magrib Terlewat    Misteri Mimpi Menjelang Subuh dan Lubang di Bawah Jemuran    Misteri Sebutir Ubi yang Bersinar di Dalam Periuk    Kisah Nyata Seorang Perempuan dan Seekor Ular    Kisah Nyata Tahun 1960-an: Ular Berkaki yang Ditemukan di Bekas Bakar Ladang    Tuai Padi Tradisional di Kampung Zaman Dulu    Kisah Bayi Perempuan yang Ditukar Orang Bunyian dengan Bayi Lelaki    Legenda Pemuda Kampung yang Konon Diangkat Menjadi Raja Orang Bunyian    Ketika Padi yang Hilang Kembali dari Kaum Bunyian    Kisah yang Dituturkan Turun-Temurun: Saat Manusia dan Orang Bunyian Masih Saling Berhubungan    Kisah Nyata: Cahaya di Dasar Sungai yang Membuat Salat Magrib Terlewat    Misteri Mimpi Menjelang Subuh dan Lubang di Bawah Jemuran    Misteri Sebutir Ubi yang Bersinar di Dalam Periuk    Kisah Nyata Seorang Perempuan dan Seekor Ular    Kisah Nyata Tahun 1960-an: Ular Berkaki yang Ditemukan di Bekas Bakar Ladang   

Ketika Padi yang Hilang Kembali dari Kaum Bunyian

28 Jul 2026
Sokai Developer
2 views
Misteri

Sejak dahulu, kehidupan masyarakat kampung sangat bergantung pada hasil ladang. Menanam padi merupakan pekerjaan yang dilakukan seluruh anggota keluarga. Saat musim membuka ladang tiba, ayah menebang dan membersihkan lahan, ibu membantu membersihkan area ladang pol, sementara anak-anak ikut mengusir burung dan membantu pekerjaan ringan. Semua dilakukan dengan penuh semangat, karena hasil panen menjadi bekal kehidupan selama setahun.

Setelah berbulan-bulan dirawat, tibalah saat yang paling dinanti. Hamparan padi menguning membentang luas sejauh mata memandang. Seorang petani berdiri di tepi ladangnya sambil memandang bulir-bulir padi yang merunduk karena berisi. Dari pengalamannya selama bertahun-tahun, ia memperkirakan hasil panen kali itu akan mencapai sekitar satu ton gabah.

"Panen tahun ini pasti sangat banyak," pikirnya penuh syukur.

Keesokan harinya seluruh keluarga turun ke ladang untuk memanen. Sejak pagi hingga menjelang siang mereka memotong padi, mengikatnya menjadi beberapa ikatan, lalu mengumpulkannya di tepi ladang. Namun, ketika seluruh padi selesai dipanen dan dihitung, wajah petani itu berubah heran.

Hasilnya ternyata jauh lebih sedikit daripada perkiraannya.

Ia berulang kali menghitung kembali. Perhitungannya selama ini hampir tidak pernah meleset. Tetapi kali itu, jumlah padi yang terkumpul jauh di bawah perkiraan.

Dengan rasa bingung, saat matahari tepat di atas kepala, petani itu memilih beristirahat di bawah sebatang pohon besar yang rindang di pinggir ladangnya. Angin bertiup perlahan membuat suasana terasa sejuk. Ia membuka topi ladangnya lalu menggunakannya sebagai kipas untuk mengusir rasa gerah. Setelah beberapa saat, hembusan angin membuat matanya mulai terasa berat.

Ketika hampir terlelap, tiba-tiba terdengar suara yang sangat jelas.

Suara itu begitu dekat, seolah-olah berasal dari balik batang pohon tempat ia bersandar.

Yang terdengar adalah suara seorang ibu sedang berbicara kepada anaknya.

Petani itu terdiam.

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada seorang pun di sekitar pohon. Namun suara itu terdengar sangat jelas di telinganya.

Sang ibu berkata kepada anaknya,

"Perhatikan baik-baik mantra ini. Ikuti setiap katanya."

Kemudian ia mengajarkan sebuah mantra kepada anaknya. Petani itu tanpa sengaja mendengarkan setiap kata yang diucapkan. Setelah selesai mengajarkan mantra itu, sang ibu kembali berkata,

"Jangan sampai ada manusia mengetahui mantra ini. Jika mereka mengetahuinya, kaum kita akan berada dalam bahaya dan mereka akan dapat melihat keberadaan kita."

Mendengar ucapan itu, bulu kuduk petani berdiri.

Ia yakin suara itu bukan berasal dari manusia biasa.

Dengan keberanian yang muncul tiba-tiba, petani itu berdiri lalu mengucapkan kembali mantra yang baru saja didengarnya, kata demi kata.

Belum selesai mantra itu diucapkan, tiba-tiba terjadi sesuatu yang membuatnya terpaku.

Di samping pohon tempat ia berteduh, mendadak tampak berlonggok-longgok ikatan padi yang baru dipanen. Jumlahnya sangat banyak, persis seperti hasil panen yang sebelumnya hilang dari perkiraannya.

Pada saat yang sama terdengar suara gaduh. Sekelompok makhluk yang diyakini sebagai orang bunyian berlarian tunggang-langgang meninggalkan tempat itu karena mengetahui mantra mereka telah diketahui oleh seorang manusia.

Petani itu hanya bisa berdiri terpaku menyaksikan kejadian yang luar biasa tersebut.

Kini ia mengerti mengapa hasil panennya jauh lebih sedikit daripada perkiraannya. Menurut cerita yang diyakini masyarakat dahulu, sebagian padi itu telah diambil oleh kaum bunyian.

Dengan penuh rasa syukur, petani itu segera mengumpulkan kembali seluruh padinya. Setelah dihitung ulang, jumlahnya sesuai dengan perkiraan sejak awal.

Sesampainya di rumah, ia menceritakan kejadian itu kepada keluarganya. Sejak saat itulah kisah tersebut menjadi cerita turun-temurun di kampung sebagai pengingat bahwa alam masih menyimpan banyak rahasia yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh akal manusia.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah itu, cerita ini telah lama hidup di tengah masyarakat sebagai bagian dari warisan cerita rakyat tentang orang bunyian yang diwariskan dari generasi ke generasi dan kita tetap saling menghormati sesama makhluk dan alam sekitar kita.

Bagikan Artikel
Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.