Peristiwa ini diceritakan terjadi puluhan tahun yang lalu di Kampung Rokan. Saat itu, kakek saya dikenal sebagai seorang pedagang yang cukup berhasil. Beliau memiliki sebuah kedai yang besar dan lengkap dengan berbagai kebutuhan masyarakat. Selain berdagang di kedai, beliau juga menjalankan usaha minyak sehingga kehidupannya tergolong berkecukupan.
Walaupun sibuk berdagang, beliau tetap berusaha menjaga ibadah. Setiap menjelang waktu Magrib, beliau biasa mengambil wudu di Sungai Rokan yang berada tidak jauh dari kampung.
Pada masa itu, air Sungai Rokan sedang surut. Kedalamannya hanya sekitar sebatas betis orang dewasa. Dasar sungai terlihat sangat jelas, dipenuhi pasir, batu-batu kecil, dan kerikil yang bersih.
Suatu sore menjelang Magrib, kakek saya berdiri di tengah sungai untuk berwudu. Ketika membasuh wajah, pandangannya tertuju pada sesuatu yang sangat aneh.
Di sela-sela batu kerikil di dasar sungai tampak sebuah cahaya terang memancar dari sebuah batu.
Karena penasaran, beliau menghampiri cahaya tersebut. Dengan kedua tangannya, beliau mulai menggali pasir dan kerikil untuk mengambil batu yang memancarkan cahaya itu.
Namun, semakin dalam digali, batu bercahaya itu seolah-olah ikut bergerak menjauh ke dasar sungai.
Beliau terus menggali dengan penuh semangat. Rasa penasaran berubah menjadi keinginan yang sangat kuat untuk mendapatkan batu tersebut.
Anehnya, setiap kali hampir berhasil dijangkau, cahaya itu semakin masuk ke dalam pasir. Seakan-akan mengetahui bahwa ada orang yang ingin mengambilnya.
Tanpa disadari, waktu terus berlalu. Azan Magrib telah berkumandang, tetapi beliau masih terus menggali.
Beberapa saat kemudian, cahaya itu perlahan semakin redup, lalu menghilang begitu saja.
Beliau menghentikan galiannya. Tangannya penuh pasir dan kerikil. Batu yang dicari tidak berhasil diperoleh. Wudu yang hendak dilakukan pun tidak selesai.
Ketika tersadar, waktu Magrib telah berlalu. Salat Magrib yang seharusnya dikerjakan di awal waktu akhirnya terlewat karena terlalu larut mengejar sesuatu yang belum tentu dapat dimiliki.
Peristiwa itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi keluarga kami. Kakek saya sendiri sering menceritakan kejadian tersebut sebagai pengingat bahwa godaan tidak selalu datang dalam bentuk harta yang nyata. Kadang-kadang, rasa penasaran dan keinginan untuk memiliki sesuatu dapat membuat seseorang lupa terhadap kewajibannya kepada Allah SWT.
Apakah cahaya itu berasal dari batu yang memang memiliki keunikan, pantulan cahaya alam, atau sesuatu yang tidak dapat dijelaskan, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Yang pasti, peristiwa itu meninggalkan hikmah yang sangat besar.
Jangan sampai keinginan mengejar sesuatu yang bersifat duniawi membuat kita lalai terhadap kewajiban yang telah ditetapkan Allah SWT. Sebab apa pun yang telah menjadi rezeki kita tidak akan tertukar, sedangkan waktu untuk beribadah tidak akan pernah kembali apabila telah terlewat.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.