Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
Kisah yang Dituturkan Turun-Temurun: Saat Manusia dan Orang Bunyian Masih Saling Berhubungan    Kisah Nyata: Cahaya di Dasar Sungai yang Membuat Salat Magrib Terlewat    Misteri Mimpi Menjelang Subuh dan Lubang di Bawah Jemuran    Misteri Sebutir Ubi yang Bersinar di Dalam Periuk    Kisah Nyata Seorang Perempuan dan Seekor Ular    Kisah Nyata Tahun 1960-an: Ular Berkaki yang Ditemukan di Bekas Bakar Ladang    Lepikal Eka Putra: Menjaga Nada, Merawat Budaya Lewat Karya    Berenang Menyeberangi Sungai Rangau Demi Mandi di Atas Balak    Sabtu Pagi Demi Jaka Swara, Senin Pagi Menghadap Tiang Bendera    Membangun Server Modern: Kendali Penuh Data dan Keamanan di Tangan Anda    Kisah yang Dituturkan Turun-Temurun: Saat Manusia dan Orang Bunyian Masih Saling Berhubungan    Kisah Nyata: Cahaya di Dasar Sungai yang Membuat Salat Magrib Terlewat    Misteri Mimpi Menjelang Subuh dan Lubang di Bawah Jemuran    Misteri Sebutir Ubi yang Bersinar di Dalam Periuk    Kisah Nyata Seorang Perempuan dan Seekor Ular    Kisah Nyata Tahun 1960-an: Ular Berkaki yang Ditemukan di Bekas Bakar Ladang    Lepikal Eka Putra: Menjaga Nada, Merawat Budaya Lewat Karya    Berenang Menyeberangi Sungai Rangau Demi Mandi di Atas Balak    Sabtu Pagi Demi Jaka Swara, Senin Pagi Menghadap Tiang Bendera    Membangun Server Modern: Kendali Penuh Data dan Keamanan di Tangan Anda   

Kisah Nyata Tahun 1960-an: Ular Berkaki yang Ditemukan di Bekas Bakar Ladang

27 Jul 2026
Sokai Developer
2 views
Kisah Nyata

Pada sekitar tahun 1960-an, kehidupan masyarakat kampung masih sangat dekat dengan alam. Setelah musim panen selesai, ladang dibersihkan dengan cara mengumpulkan ranting, dahan kecil, daun kering, dan berbagai sampah ladang ke dalam beberapa longgokan. Longgokan itu biasanya tidak langsung dibakar. Dibiarkan terlebih dahulu selama beberapa hari agar benar-benar kering sehingga mudah terbakar.

Suatu hari, seorang anak perempuan yang sedang bermain di ladang sambil melihat-lihat bekas panen. Tidak jauh darinya, sang ayah sedang mengumpulkan ranting dan kayu-kayu kecil untuk dijadikan satu longgokan yang nantinya juga akan dibakar.

Saat berjalan melewati bekas tempat pembakaran yang sudah dingin, anak itu melihat sesuatu yang membuatnya heran. Di antara abu hitam dan sisa kayu yang hangus tergeletak seekor ular yang sudah mati terbakar. Namun, yang membuatnya semakin penasaran adalah di sepanjang sisi tubuh ular itu tampak banyak kaki kecil sehingga sekilas menyerupai kaki seribu.

Anak perempuan itu segera memanggil ayahnya.

"Ayah... kok ular yang terbakar itu ada kakinya seperti kaki seribu?"

Sang ayah menoleh sebentar lalu beliau hanya berkata dengan tenang,

"Sudahlah, jangan main di situ. Mainlah yang jauh-jauh saja."

Mendengar jawaban ayahnya, anak perempuan itu pun menuruti nasihat tersebut. Ia meninggalkan bekas pembakaran dan kembali bermain di bagian ladang yang lebih jauh.

Kemungkinan, ketika ayahnya membakar longgokan ranting dan sampah ladang beberapa hari sebelumnya, ular itu sedang bersembunyi di dalam tumpukan ranting. Karena tidak terlihat, ular tersebut ikut terbakar saat api dinyalakan. Peristiwa itu terjadi tanpa disengaja.

Kejadian sederhana ini menjadi salah satu kenangan yang masih diingat hingga bertahun-tahun kemudian. Pada masa itu, membersihkan ladang dengan mengumpulkan ranting dan membakarnya merupakan pekerjaan yang lazim dilakukan masyarakat. Di balik pekerjaan tersebut, terkadang ditemukan hal-hal yang tidak biasa, yang kemudian menjadi cerita turun-temurun di dalam keluarga.

Demikianlah kisah yang dikenang dari kehidupan kampung pada era 1960-an, ketika anak-anak bebas bermain di alam terbuka, sementara para orang tua bekerja membersihkan ladang dengan peralatan yang sederhana.

Bagikan Artikel
Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.