Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?      OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?     

Menangkap Ikan Kupiek Dengan Menahan Guntang Ala Tradisional

20 Jul 2026
Sokai Developer
166 dilihat
0 komentar
Headline, Kenangan

Di sepanjang aliran Sungai Rokan, masyarakat sejak dahulu memiliki beragam cara tradisional untuk menangkap ikan. Salah satu teknik yang masih dikenal hingga kini adalah menahan guntang, sebuah metode sederhana namun efektif untuk menangkap ikan kupiek, ikan air tawar yang gemar menyusuri dasar sungai dan tepian arus.

Teknik menahan guntang memanfaatkan sebuah pancang kayu berdiameter sekitar sebesar lengan orang dewasa yang ditancapkan kuat di dasar sungai. Pada bagian bawah pancang, tepat di atas permukaan air, dipasang paku yang dibengkokkan hingga membentuk celah seperti kait. Celah inilah yang menjadi tempat menyangkutkan tali pancing agar mudah dilepas ketika hasil tangkapan akan diambil.

Dari celah paku tersebut, tali pancing diulur sepanjang kurang lebih delapan meter ke arah arus sungai. Pada ujung tali dipasang mata kail yang telah diberi umpan, sedangkan di dekat pangkal tali dipasang pelampung kayu sepanjang sekitar satu jengkal. Pelampung ini berfungsi sebagai penanda apabila ikan menyambar umpan.

Keunikan teknik ini terletak pada cara kerjanya. Saat ikan kupiek memakan umpan dan berusaha berenang menjauh, tarikan pada tali akan membuat pelampung kayu bergerak cepat mengikuti tali hingga meluncur mendekati pancang. Pergerakan pelampung yang tiba-tiba menjadi isyarat bagi pemilik guntang bahwa ikan telah terkena kail.

Melihat pelampung telah merapat ke pancang, dengan memegang pancang sebagai tumpuan, tali pancing dilepaskan dari celah paku bengkok, kemudian ditarik perlahan agar ikan tidak terlepas. Cara ini membutuhkan kesabaran dan pengalaman karena tarikan yang terlalu kuat dapat membuat kail lepas dari mulut ikan.

Bagi masyarakat tepian Sungai Rokan, menahan guntang bukan sekadar teknik menangkap ikan. Tradisi ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Peralatan yang digunakan dibuat dari bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar, seperti kayu, tali pancing, paku, dan pelampung dari potongan kayu ringan.

Selain ramah lingkungan, metode ini juga tidak mengganggu ekosistem sungai. Hanya ikan yang memakan umpan yang akan tertangkap, sehingga ikan-ikan kecil maupun biota air lainnya tetap terjaga. Itulah sebabnya teknik menahan guntang masih dihargai sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Sungai Rokan.

Di tengah maraknya penggunaan alat tangkap modern, tradisi menahan guntang tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Bukan hanya karena hasil tangkapannya, tetapi juga karena nilai kesabaran, ketelitian, dan kedekatan dengan alam yang terkandung di dalamnya. Tradisi sederhana ini menjadi bukti bahwa pengetahuan lokal mampu bertahan dan tetap relevan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat di tepian Sungai Rokan.


Bagikan Artikel
Artikel Terkait

Belum ada artikel terkait.

Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.