Tahun 1986 menjadi salah satu masa yang masih dikenang oleh masyarakat yang hidup di sepanjang tepian Sungai Rokan. Ketika musim penghujan tiba di daerah hulu, air sungai perlahan mulai meninggi. Warna air yang biasanya kecokelatan berubah semakin keruh karena membawa lumpur dari pegunungan dan hutan di bagian hulu. Meski debit air meningkat, arus Sungai Rokan saat itu belum terlalu ganas. Air mengalir deras namun masih cukup tenang sehingga berbagai benda yang hanyut dapat terlihat jelas dari kejauhan.
Saat air mulai naik, permukaan sungai dipenuhi aneka benda hanyut. Ranting, bambu, pelepah, dedaunan, hingga batang-batang kayu besar atau balak ikut terbawa arus. Di masa itu, kawasan hulu Sungai Rokan masih didominasi hutan yang luas sehingga kayu-kayu berukuran besar sering hanyut ketika banjir datang.
Bagi sebagian masyarakat tepian sungai, datangnya musim air besar justru menjadi kesempatan untuk mencari rezeki. Sejak pagi, para lelaki dewasa sudah berkumpul di tepi sungai sambil mengamati balak yang hanyut. Begitu terlihat batang kayu berdiameter sekitar 25 hingga 40 sentimeter, bahkan ada yang lebih besar, mereka segera berenang menghampiri. Dengan berbekal tali rotan atau tambang sederhana, batang kayu itu diikat lalu diarahkan perlahan menuju tepian sungai.
Pekerjaan tersebut bukan tanpa risiko. Air yang cukup dalam membuat para pencari balak harus pandai berenang. Di sekitar mereka masih banyak ranting, semak, dan sampah alami yang ikut hanyut sehingga mereka harus berhati-hati agar tidak tersangkut. Meski demikian, pengalaman bertahun-tahun membuat mereka memahami karakter arus Sungai Rokan. Mereka tahu kapan harus mendekat, kapan harus menunggu, dan bagaimana memanfaatkan arus agar balak mudah dibawa ke tepi.
Balak yang berhasil dikumpulkan dimanfaatkan untuk kebutuhan sendiri. Kayu-kayu besar itu dirangkai menjadi rakit sebagai alat tempat mandi di sungai.
Kala itu, pemandangan di tepian Sungai Rokan masih sangat alami. Hamparan rumput lalang tumbuh memanjang mengikuti bibir sungai. Pepohonan rindang berdiri kokoh menaungi tepian. Permukiman penduduk tidak banyak terlihat dari sungai; hanya sesekali tampak ujung atap rumah yang muncul dari balik pepohonan dan semak di kejauhan. Suasana masih tenang, hanya terdengar suara burung, percikan air, dan tawa para pencari balak yang saling membantu.
Anak-anak biasanya berdiri di tepi sungai sambil menyaksikan ayah atau kakak mereka berenang mengejar batang kayu. Sesekali mereka ikut menarik tali ketika balak sudah mendekati daratan. Kebersamaan seperti itulah yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sungai Rokan pada masa itu.
Kini, kenangan berburu balak hanyut mungkin sudah jarang dijumpai. Namun bagi mereka yang pernah mengalaminya, setiap musim air besar selalu mengingatkan pada masa ketika Sungai Rokan bukan hanya menjadi jalur transportasi, melainkan juga sumber kehidupan yang menyediakan kayu, ikan, dan berbagai kebutuhan masyarakat di sepanjang alirannya. Kisah-kisah sederhana seperti inilah yang menjadi bagian dari sejarah dan budaya masyarakat tepian Sungai Rokan, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.