Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?      OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?     

Menyusuri Hutan Rawa Mengeluarkan Kayu Meranti Tahun 1991

23 Jul 2026
Sokai Developer
48 dilihat
0 komentar
Headline, Kenangan

Tahun 1991 menjadi masa yang tidak akan pernah saya lupakan. Saat itu kehidupan di kampung masih sangat bergantung pada hasil hutan. Salah satu pekerjaan yang paling berat adalah mengeluarkan kayu meranti dari dalam hutan rawa menuju sungai rokan melalui lorong-lorong air yang sempit di tengah hutan yang selalu tergenang.

Balak-balak meranti disusun menjadi rakit. Setiap bagian terdiri dari tiga batang kayu yang diikat rapat menggunakan kawat dan paku. Bagian pertama disambung dengan tiga batang berikutnya, lalu disambung lagi dengan tiga batang di belakangnya hingga membentuk rakit yang sangat panjang. Di bagian paling belakang diikat sebuah sampan kecil untuk membawa bekal, peralatan, serta kebutuhan selama perjalanan.

Tugas mengeluarkan balak bukanlah pekerjaan yang mudah. Kami berdiri di atas rakitan balak sambil mendorong menggunakan galah kayu panjang yang ditancapkan ke dasar air. Kedalaman air di beberapa tempat mencapai sekitar empat meter. Jalur yang dilewati hanya sekitar dua meter lebarnya, diapit pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Tidak terlihat daratan sama sekali, karena seluruh kawasan hutan terendam air.

Selain beratnya pekerjaan, ada satu musuh yang selalu menghantui, yaitu lintah hutan. Jumlahnya sangat banyak. Karena itulah sebelum berangkat, ujung celana selalu diikat rapat pada pergelangan kaki agar lintah tidak bisa masuk ke dalam celana. Begitu juga ujung lengan baju diikat agar lintah tidak merayap ke dalam pakaian.

Meski sudah berhati-hati, saat turun ke air untuk merapikan susunan balak atau mengencangkan ikatan kawat, lintah langsung menempel di mana-mana. Baru beberapa menit berada di air, bagian luar celana dan baju sudah dipenuhi lintah yang bergelantungan. Setelah pekerjaan selesai dan kembali naik ke atas balak, lintah-lintah itu harus dilepaskan satu per satu. Tidak jarang ada yang berhasil menggigit kulit hingga mengeluarkan darah.

Perjalanan keluar dari hutan memerlukan kesabaran dan tenaga yang besar. Rakit balak harus melewati celah-celah pohon, akar, dan ranting yang menghalangi jalan. Sedikit saja salah mengarahkan, balak bisa tersangkut sehingga seluruh susunan harus dirapikan kembali di tengah air yang dipenuhi lintah.

Begitulah beratnya mencari nafkah pada masa itu. Tidak ada alat berat, tidak ada mesin penarik, semuanya mengandalkan tenaga manusia, galah kayu, dan semangat untuk bertahan hidup. Kayu meranti yang berhasil sampai ke Sungai Rokan menjadi hasil dari kerja keras, keberanian, dan perjuangan yang tidak ringan.

Kini, ketika mengenang kembali tahun 1991, semua itu menjadi cerita yang penuh pelajaran. Kehidupan pada masa itu mengajarkan arti kerja keras, kesabaran, dan keberanian menghadapi alam. Di balik setiap batang kayu meranti yang berhasil keluar dari hutan, tersimpan kisah perjuangan melawan derasnya air rawa, sempitnya jalur hutan, serta ribuan lintah yang selalu siap menempel di tubuh para pekerja. Itulah sekelumit kisah kerasnya kehidupan masyarakat pencari kayu pada masa itu di hutan-hutan sekitar Sungai Rokan.

Bagikan Artikel
Artikel Terkait

Belum ada artikel terkait.

Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.