Peristiwa ini diceritakan terjadi sekitar akhir tahun 1980-an di sebuah kampung yang masih sunyi. Saat itu rumah-rumah masih terbuat dari papan kayu, halaman belakang dipenuhi semak belukar, dan di belakang rumah mengalir sebuah sungai kecil berair cokelat seperti kopi. Di tepi sungai itulah berdiri sebuah jemuran pakaian yang sudah lama digunakan keluarga.
Seorang perempuan yang berusia sekitar 30 tahun mengalami sebuah mimpi yang hingga kini masih diingatnya.
Dalam mimpinya, ia didatangi seorang lelaki tua yang berpakaian serba putih. Wajahnya tampak tenang dan berbicara dengan suara lembut.
"Kalau mau sesuatu berharga datanglah ke belakang rumah, di bawah jemuran pakaian. Datanglah sendiri, jangan mengajak siapa pun. Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu."
Setelah mengucapkan kalimat itu, sosok lelaki tua tersebut perlahan menghilang.
Perempuan itu terbangun dengan jantung berdebar. Jam di rumah menunjukkan sekitar pukul empat dini hari. Di luar masih gelap gulita. Suara jangkrik masih terdengar bersahutan, sementara azan Subuh belum berkumandang.
Ia duduk termenung di atas tempat tidurnya.
Di dalam hatinya muncul dua perasaan yang saling bertentangan. Ada rasa penasaran tentang apa yang dimaksud lelaki tua dalam mimpinya. Namun, ada pula rasa takut yang sulit dijelaskan.
Setelah beberapa saat, ia berjalan menuju dapur. Rumahnya yang berdinding papan memiliki celah-celah kecil di antara susunan papan. Dari celah itulah ia mencoba mengintip ke arah belakang rumah.
Pandangannya tertuju ke bawah tiang jemuran, tepat di tepi sungai kecil yang airnya berwarna kecokelatan.
Tiba-tiba ia melihat dua titik berwarna merah menyala seperti sepasang mata sedang menatap ke arahnya dari balik kegelapan.
Perempuan itu terperanjat. Tubuhnya seketika gemetar. Niat untuk keluar rumah pun langsung dibatalkan. Ia memilih tetap berada di dalam rumah hingga hari mulai terang.
Setelah matahari terbit dan suasana kampung mulai ramai, barulah ia memberanikan diri berjalan ke belakang rumah menuju tempat yang disebutkan dalam mimpinya.
Sesampainya di dekat tiang jemuran, ia berhenti melangkah.
Di tanah, tepat di samping tiang jemuran, terlihat sebuah lubang yang cukup jelas. Yang membuatnya semakin heran, selama bertahun-tahun tinggal di rumah itu, ia merasa tidak pernah melihat adanya lubang di tempat tersebut.
Perempuan itu hanya memandang lubang itu beberapa saat.
"Mengapa baru sekarang ada lubang di sini? Apa yang keluar dari dalam tanah?" gumamnya dalam hati.
Ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Tidak ada jejak apa pun. Tidak ada hewan, tidak ada benda, dan tidak ada sesuatu yang tampak berbeda selain lubang itu.
Karena datang saat hari sudah terang, suasana di belakang rumah tampak seperti biasa. Sungai kecil tetap mengalir pelan, jemuran berdiri di tempatnya, dan semak belukar bergoyang tertiup angin.
Namun, pertanyaan tentang mimpinya tidak pernah benar-benar terjawab.
Apakah mimpi itu hanya bunga tidur? Apakah mata merah yang dilihatnya saat menjelang Subuh hanyalah pantulan cahaya atau hewan yang berada di balik semak? Dan mengapa tiba-tiba muncul sebuah lubang di tempat yang disebutkan dalam mimpinya?
Hingga kini, perempuan itu masih mengingat peristiwa tersebut sebagai salah satu pengalaman paling misterius yang pernah dialaminya. Ia tidak pernah mengetahui apa sebenarnya yang ingin diperlihatkan atau diberikan oleh sosok lelaki tua dalam mimpinya. Yang tersisa hanyalah sebuah kenangan, rasa penasaran, dan sebuah lubang di bawah jemuran yang sampai sekarang masih membekas dalam ingatannya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.