Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?      OMAK ABAH: LAGU RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI      Nikmatnya Menjalani Hidup dengan Selalu Bersyukur      Mengenal Perbedaan SSD M.2 dengan Satu dan Dua Lekukan      Distribusi Internet Melalui Satelit Starlink, Begini Cara Jaringan Dikirim ke Pengguna      Teknologi Radar Kuantum Suhu Ruang Mulai Dikembangkan, Belum Hadir sebagai Produk Pasar      Lepikal Eka Putra Hadirkan Lagu “Urang Nun Tidu’o” dengan Lirik Bernuansa Romantis      Hancuo Munabuo, Karya Lephi Khan yang Membawa Bahasa Daerah ke Dunia Musik Rokan Hulu      Lephi Khan dan Perjuangan Menghidupkan Lagu Daerah Rokan Hulu      Pulang Sekolah dan Kenangan Mencari Ikan di Parit — 1995      OJS dan Ancaman Peretasan: Mengapa Situs Jurnal Ilmiah Sering Menjadi Sasaran?     

Misteri Sebutir Ubi yang Bersinar di Dalam Periuk

27 Jul 2026
Sokai Developer
34 dilihat
0 komentar
Headline, Kisah Nyata

Peristiwa ini diceritakan terjadi sekitar tahun 1987 di sebuah kota yang Pada masa itu, seorang ibu mempunyai kebiasaan setiap sore merebus ubi kayu. Ubi rebus itu dimakan bersama keluarga pada malam hari, dan sebagian lagi diolah menjadi kerupuk cabai, makanan sederhana yang menjadi kesukaan keluarga dan sebagian lagi untuk dijual.

Setiap hari pekerjaannya hampir sama. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, ia mengambil ubi dari kebun yang sama, mencucinya hingga bersih, lalu merebusnya di dalam sebuah periuk aluminium di atas kompor minyak. Semua dilakukan seperti biasanya, tanpa ada sesuatu yang berbeda.

Namun pada suatu sore menjelang waktu Magrib, ketika ubi sudah matang dan ia mengangkat penutup periuk, terjadi sesuatu yang membuatnya terdiam. Dari beberapa ubi yang direbus, hanya satu ubi yang memancarkan cahaya terang dari dalam periuk. Ubi-ubi lainnya tampak biasa saja.

Ia sangat terkejut karena ubi yang bercahaya itu berasal dari tempat yang sama dengan ubi-ubi yang setiap hari direbus. Tidak ada perbedaan bentuk maupun ukurannya.

Dengan hati-hati, ubi tersebut diangkat dan diletakkan di atas sebuah piring. Anehnya, cahaya itu tetap terlihat meskipun ubi sudah berada di luar periuk.

Melihat kejadian itu, adik laki-lakinya yang berada di rumah berkata,

"Mungkin ini cahaya dari getahnya."

Karena penasaran, ubi itu kemudian dipotong-potong menjadi beberapa bagian kecil. Yang lebih mengherankan, setiap potongan ubi itu tetap memancarkan cahaya. Potongan-potongan tersebut lalu disusun berjajar di atas teras rumah agar seluruh keluarga dapat melihatnya.

Malam pun tiba. Cahaya dari potongan ubi masih tampak samar di atas teras.

Ketika masuk waktu salat Isya, perempuan itu masuk ke kamarnya untuk menunaikan ibadah. Setelah selesai salat, ia masih duduk di atas sajadah dengan mukena yang belum dilepas. Saat itulah rasa kantuk datang begitu kuat. Ia merasa matanya sangat berat hingga tanpa disadari tertidur dalam posisi masih mengenakan mukena.

Dalam tidurnya, ia bermimpi didatangi seorang lelaki tua berjubah putih dan berserban putih. Sosok itu berdiri di hadapannya sambil berkata,

"Kami memberikan barang yang berharga, tetapi kamu membuangnya seperti sampah."

Setelah mengucapkan kalimat itu, sosok tersebut perlahan menghilang.

Perempuan itu terbangun dengan perasaan terkejut. Ia segera keluar menuju teras untuk melihat potongan ubi yang sebelumnya masih memancarkan cahaya.

Namun ketika diperhatikannya, cahaya itu telah hilang. Potongan-potongan ubi tersebut kini tampak seperti ubi rebus biasa, tanpa sinar sedikit pun.

Keesokan harinya, ketika ubi itu dicicipi, rasanya terasa pahit, tidak seperti ubi yang biasa mereka rebus setiap hari, padahal semuanya berasal dari kebun yang sama.

Peristiwa tersebut membuat seluruh keluarga heran. Mereka tidak pernah mengetahui apa penyebab ubi itu memancarkan cahaya, mengapa semua potongannya ikut bercahaya, mengapa cahayanya hilang setelah malam berlalu, dan mengapa rasanya berubah menjadi pahit.

Hingga kini, kisah itu masih dikenang sebagai salah satu pengalaman paling aneh yang pernah dialami keluarga tersebut pada sekitar tahun 1987. Penjelasan mengenai penyebabnya tidak pernah benar-benar diketahui, sehingga cerita itu tetap menjadi kenangan yang sering diceritakan dari generasi ke generasi.

Bagikan Artikel
Artikel Terkait

Belum ada artikel terkait.

Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.