Tahun 1991 merupakan masa yang penuh perjuangan bagi masyarakat di kampung kami. Saat itu tidak banyak pilihan pekerjaan. Salah satu cara mencari nafkah adalah mengambil rotan cincin di dalam hutan rimba untuk dijual kepada pengepul di kampung. Hasilnya memang tidak seberapa, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Pagi-pagi sekali, sekitar jam 6 pagi, kami menyiapkan bekal sederhana berupa nasi, ikan asin, dan air minum. Sebilah parang, sarung tangan, tali pengikat, serta sampan kayu sudah dipersiapkan sejak malam sebelumnya. Setelah semuanya siap, kami berangkat menyusuri sungai menggunakan sampan.
Perjalanan dengan mendayung memakan waktu sekitar setengah jam hingga tiba di sebuah tempat yang biasa disebut masyarakat sebagai Petani, sebuah lokasi yang menjadi pintu masuk menuju hutan rimba. Di sana sampan ditambatkan pada batang pohon di tepi sungai agar tidak hanyut.
Perjalanan belum selesai. Dari tempat sampan ditambatkan, kami harus berjalan kaki sekitar lima belas menit menyusuri jalan setapak yang dipenuhi semak belukar, akar-akar pohon besar, dan tanah hutan yang lembap. Barulah kami sampai di kawasan tempat tumbuhnya rotan cincin.
Rotan yang dicari bukanlah rotan pendek. Setiap batang panjangnya sekitar sepuluh meter bahkan lebih. Setelah dipotong, rotan dibersihkan dari durinya, kemudian dilipat membentuk lingkaran besar dan diikat menjadi satu ikatan yang beratnya bisa mencapai sekitar enam puluh kilogram. Ikatan rotan itu kemudian dipikul menggunakan bahu untuk dibawa keluar dari hutan.
Perjalanan pulang jauh lebih berat. Dengan beban puluhan kilogram di pundak, kami harus berjalan kembali menuju tempat sampan ditambatkan. Jalan yang menanjak, licin, dan dipenuhi akar pohon membuat langkah terasa sangat berat. Sesampainya di tepi sungai, rotan diangkat ke dalam sampan, lalu kami kembali mendayung menyusuri sungai menuju kampung.
Karena jaraknya yang jauh dan tenaga yang sudah terkuras, kami biasanya baru tiba di rumah menjelang waktu Magrib. Tubuh terasa lelah, pakaian basah oleh keringat, dan bahu terasa pegal akibat memikul rotan sepanjang perjalanan.
Malam harinya, pekerjaan belum benar-benar selesai. Ketika menarik rotan di dalam hutan, duri-duri tajam sering menusuk tangan. Walaupun sudah memakai sarung tangan, ada saja duri yang berhasil menembus hingga telapak tangan. Dengan bantuan jarum atau ujung pisau kecil, duri-duri itu harus dicongkel satu per satu. Rasanya sangat perih, tetapi itulah risiko pekerjaan yang harus dijalani.
Keesokan paginya, rotan tersebut dibawa ke tempat pembeli rotan di kampung. Di sanalah hasil jerih payah sehari penuh akhirnya dijual. Uang yang diperoleh digunakan keperluan rumah tangga dan lainnya.
Kini, ketika mengenang kembali masa-masa itu, terasa betapa berat perjuangan orang tua dahulu dalam mencari rezeki. Tidak ada kendaraan, tidak ada mesin, dan tidak ada peralatan modern. Semua dikerjakan dengan tenaga, kesabaran, dan semangat pantang menyerah. Menyusuri sungai dengan sampan, berjalan kaki jauh ke dalam hutan, memikul rotan puluhan kilogram, hingga mencongkel duri yang tertancap di telapak tangan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Begitulah perjuangan masyarakat pada zaman itu pada tahun 1991. Dari balik setiap ikatan rotan cincin yang sampai ke tangan pembeli, tersimpan kisah kerja keras dan pengorbanan yang menjadi bukti bahwa rezeki pada masa itu benar-benar diperoleh dengan keringat, tenaga, dan keberanian menghadapi kerasnya alam.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.