Tahun 1996 menjadi salah satu masa yang tidak mudah bagi masyarakat Desa Sekapas, Kabupaten Rokan Hilir. Saat musim hujan tiba, air Sungai Rokan meluap dan menggenangi dataran rendah hingga jalan penghubung dari Desa Sekapas menuju Sungai Rangau terendam banjir. Jalan tanah yang biasanya dilalui dengan sepeda tidak lagi terlihat karena tertutup air.
Di tengah kondisi tersebut, semangat untuk menuntut ilmu tidak pernah surut.
Setiap hari, dua orang siswa SMP yang bersekolah di SMP Sungai Rangau harus menempuh perjalanan sekitar 5 kilometer dari Desa Sekapas. Karena seluruh jalan telah berubah menjadi genangan banjir, mereka tidak lagi dapat menggunakan sepeda. Satu-satunya sarana transportasi yang bisa digunakan adalah sampan kayu.
Sekitar pukul 10.00 WIB, mereka sudah berangkat dari rumah. Dengan mengenakan seragam putih biru dan membawa tas sekolah, keduanya menaiki sebuah sampan kecil. Seorang duduk di bagian depan, sementara seorang lagi duduk di bagian belakang. Keduanya sama-sama mendayung agar sampan dapat melaju lebih cepat melawan arus.
Perjalanan dimulai dari tepian Sungai Rokan, kemudian memasuki anak sungai (uala) yang menghubungkan ke jalan menuju Sungai Rangau. Jalan yang biasanya dipenuhi kendaraan dan sepeda kini berubah menjadi hamparan air. Pepohonan di kiri dan kanan menjadi satu-satunya penanda arah perjalanan.
Meski jaraknya hanya sekitar lima kilometer, perjalanan memakan waktu lebih dari satu jam. Mereka harus berhati-hati mengayuh sampan agar tidak tersangkut ranting atau terbawa arus. Sesekali hujan turun kembali, membasahi pakaian sekolah yang mereka kenakan.
Perjuangan panjang itu mereka lakukan hanya agar dapat mengikuti pelajaran di sekolah. Rasa lelah, lapar, dan pakaian yang basah tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti belajar. Mereka percaya bahwa pendidikan adalah bekal untuk mengubah masa depan.
Kini, puluhan tahun telah berlalu. Jalan yang dahulu sering terendam banjir dan sulit dilalui telah banyak mengalami perbaikan. Anak-anak yang bersekolah sekarang tidak lagi harus mendayung sampan untuk mencapai ruang kelas sebagaimana yang dialami anak-anak Desa Sekapas pada tahun 1996.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap keberhasilan, sering tersimpan perjuangan yang luar biasa. Banjir, jalan rusak, dan keterbatasan transportasi tidak mampu memadamkan semangat mereka untuk memperoleh pendidikan. Semangat itulah yang menjadi warisan berharga bagi generasi berikutnya, bahwa cita-cita hanya dapat diraih oleh mereka yang tidak pernah menyerah menghadapi rintangan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.