Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
Perjuangan Menempuh Pendidikan Saat Banjir Melanda    Perjuangan Perjalanan Menggapai Cita-Cita    Menangkap Ikan Kupiek Dengan Menahan Guntang Ala Tradisional    Asyiknya Memopeh Ikan Bada    Asyiknya Mencari Alo-Alo (Lokan) di Sungai Rokan    Kenangan Tak Terlupakan: Menjala Udang Galah di Simpang Tiga Sungai Rangau    Kenangan Masa SMP: Sepeda Jatuh ke Sungai Saat Pulang Belajar    Mengoca Ikan di Bangka Kayu, Tradisi Lama yang Masih Bertahan Hingga Sekarang    Kehidupan Keluarga di Pondok Ladang dan Teror Gajah Liar pada Masa Dahulu    Jejak Perjuangan Pendidikan Anak Kampung Tempo Dulu    Perjuangan Menempuh Pendidikan Saat Banjir Melanda    Perjuangan Perjalanan Menggapai Cita-Cita    Menangkap Ikan Kupiek Dengan Menahan Guntang Ala Tradisional    Asyiknya Memopeh Ikan Bada    Asyiknya Mencari Alo-Alo (Lokan) di Sungai Rokan    Kenangan Tak Terlupakan: Menjala Udang Galah di Simpang Tiga Sungai Rangau    Kenangan Masa SMP: Sepeda Jatuh ke Sungai Saat Pulang Belajar    Mengoca Ikan di Bangka Kayu, Tradisi Lama yang Masih Bertahan Hingga Sekarang    Kehidupan Keluarga di Pondok Ladang dan Teror Gajah Liar pada Masa Dahulu    Jejak Perjuangan Pendidikan Anak Kampung Tempo Dulu   

Perjuangan Perjalanan Menggapai Cita-Cita

21 Jul 2026
Sokai Developer
14 views
Kenangan

Sebuah Kisah Nyata Anak Desa Sekapas Tahun 1993–1996

Pada rentang tahun 1993 hingga 1996, ketika jalan-jalan di pedalaman Kabupaten Rokan Hilir masih berupa tanah merah dan belum diaspal seperti sekarang, perjuangan menuntut ilmu menjadi kisah yang tidak akan pernah terlupakan bagi banyak anak desa.

Di Desa Sekapas, dua orang siswa setiap hari menempuh perjalanan menuju SMP Sungai Rangau yang berjarak sekitar 5 kilometer. Satu-satunya alat transportasi yang mereka miliki hanyalah sepeda kayuh. Setiap pagi sebelum matahari terbit, mereka berangkat dengan semangat mengenakan seragam putih biru dan celana pendek khas siswa SMP pada masa itu.

Namun perjalanan menuju sekolah tidak selalu mudah.

Ketika musim hujan tiba, jalan tanah bekas jalan operasional Caltex berubah menjadi lumpur yang sangat licin. Tanah liat yang lengket menempel di ban sepeda hingga roda tidak dapat lagi berputar. Berkali-kali mereka berhenti untuk mencungkil tanah liat menggunakan ranting atau kayu kecil agar sepeda bisa didorong kembali. Baru beberapa meter berjalan, tanah kembali memenuhi ban.

Akibat kondisi jalan yang sangat buruk, mereka sering terlambat tiba di sekolah. Rasa lelah, lapar, dan pakaian yang dipenuhi lumpur sudah menjadi bagian dari perjalanan mereka setiap hari.

Suatu hari, karena benar-benar kehabisan tenaga, kedua anak itu memutuskan menyembunyikan sepeda mereka di balik semak-semak yang dipenuhi tanaman putri malu di tepi jalan. Sepeda sengaja diletakkan jauh dari pandangan orang agar aman sampai mereka pulang.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil berharap ada mobil patroli Caltex atau bus karyawan Caltex yang melintas. Jika beruntung, kendaraan tersebut berhenti dan memberikan tumpangan menuju Desa Sungai Rangau. Bagi mereka, tumpangan itu menjadi penyelamat agar masih bisa mengikuti pelajaran di sekolah.

Perjalanan yang penuh lumpur, jalan rusak, dan rasa lelah itu tidak pernah mematahkan semangat mereka untuk belajar. Mereka percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan dan mengangkat derajat keluarga.

Kini, puluhan tahun telah berlalu. Jalan yang dahulu hanya berupa tanah liat kini telah berubah menjadi jalan yang jauh lebih baik. Anak-anak zaman sekarang mungkin tidak lagi merasakan sulitnya mendorong sepeda karena ban dipenuhi lumpur atau menunggu kendaraan perusahaan untuk menumpang ke sekolah.

Namun kisah perjuangan anak-anak Desa Sekapas pada tahun 1993–1996 tetap menjadi bagian dari sejarah yang patut dikenang. Kisah itu mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. Dengan tekad, semangat, dan pengorbanan, mereka mampu melewati setiap rintangan demi memperoleh pendidikan.

Perjalanan mereka mungkin penuh lumpur, tetapi harapan dan cita-cita yang mereka bawa selalu tetap bersih dan menyala. Kisah sederhana ini menjadi bukti bahwa pendidikan sering kali diperjuangkan dengan pengorbanan yang luar biasa, dan perjuangan itulah yang akan selalu dikenang sepanja

Bagikan Artikel
Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.