Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
Kenangan Pulang Berjalan Kaki dari Sungai Rangau ke Sekapas pada Awal Tahun 1990-an    Radio di Pucuk Pohon Mangga untuk Menangkap Siaran Malaysia Sekitar Tahun 1990-an    Kenangan Menjaga Ladang dari Serangan Monyet    Perjuangan Menempuh Pendidikan Saat Banjir Melanda    Perjuangan Perjalanan Menggapai Cita-Cita    Menangkap Ikan Kupiek Dengan Menahan Guntang Ala Tradisional    Asyiknya Memopeh Ikan Bada    Asyiknya Mencari Alo-Alo (Lokan) di Sungai Rokan    Kenangan Tak Terlupakan: Menjala Udang Galah di Simpang Tiga Sungai Rangau    Kenangan Masa SMP: Sepeda Jatuh ke Sungai Saat Pulang Belajar    Kenangan Pulang Berjalan Kaki dari Sungai Rangau ke Sekapas pada Awal Tahun 1990-an    Radio di Pucuk Pohon Mangga untuk Menangkap Siaran Malaysia Sekitar Tahun 1990-an    Kenangan Menjaga Ladang dari Serangan Monyet    Perjuangan Menempuh Pendidikan Saat Banjir Melanda    Perjuangan Perjalanan Menggapai Cita-Cita    Menangkap Ikan Kupiek Dengan Menahan Guntang Ala Tradisional    Asyiknya Memopeh Ikan Bada    Asyiknya Mencari Alo-Alo (Lokan) di Sungai Rokan    Kenangan Tak Terlupakan: Menjala Udang Galah di Simpang Tiga Sungai Rangau    Kenangan Masa SMP: Sepeda Jatuh ke Sungai Saat Pulang Belajar   

Radio di Pucuk Pohon Mangga untuk Menangkap Siaran Malaysia Sekitar Tahun 1990-an

22 Jul 2026
Sokai Developer
2 views
Kenangan

Pada awal tahun 1990-an, mendengarkan lagu slow rock Malaysia bukanlah perkara yang mudah bagi masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Rokan. Belum ada internet, telepon pintar, maupun layanan musik digital. Satu-satunya cara menikmati lagu-lagu dari Malaysia adalah dengan menangkap siaran radio yang dipancarkan dari negeri seberang.

Karena sinyal radio sangat lemah, sebuah antena Yagi dipasang setinggi mungkin di atas pucuk pohon mangga yang besar dan tinggi di daratan tepi Sungai Rokan. Seorang anak dengan penuh keberanian memanjat hingga ke pucuk pohon untuk memasang antena tersebut. Dari antena itu ditarik kabel panjang menuju radio kaset yang berada di rumah rakit yang terapung di sungai.

Di seberang Sungai Rokan tampak deretan rumah-rumah masyarakat yang membentang mengikuti aliran sungai. Pada sore hingga malam hari, suasana menjadi begitu tenang. Dari radio terdengar siaran musik dari Malaysia yang kadang terdengar jernih, kadang pula hilang karena gangguan cuaca dan perubahan arah angin.

Setiap kali penyiar mulai memutar lagu-lagu slow rock dari grup dan penyanyi favorit, kaset kosong C-90 sudah disiapkan di dalam radio kaset. Jari selalu siap menekan tombol Record dan Play secara bersamaan agar lagu yang diputar dapat direkam tanpa terpotong. Bahkan ketika penyiar mulai berbicara, pendengar berharap ia segera diam agar rekaman lagu menjadi lebih sempurna.

Mendapatkan satu kaset penuh lagu-lagu slow rock Malaysia memerlukan kesabaran yang luar biasa. Kadang harus menunggu berhari-hari bahkan berminggu-minggu hingga lagu yang diinginkan diputar kembali. Namun semua perjuangan itu terasa sangat berharga, karena hasil rekaman menjadi hiburan yang menemani kehidupan sehari-hari.

Kini semua kenangan itu menjadi bagian dari sejarah kehidupan masyarakat di tepian Sungai Rokan. Sebuah masa ketika kecintaan terhadap musik membuat seseorang rela memanjat pohon mangga yang tinggi demi memasang antena radio agar dapat menikmati indahnya lagu-lagu slow rock Malaysia yang hingga kini masih dikenang.

Bagikan Artikel
Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.