Sebelum parabola, televisi digital, internet, bahkan telepon pintar hadir seperti sekarang, menonton televisi merupakan sebuah kemewahan bagi masyarakat dikampung, Riau. Pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, hanya segelintir keluarga yang mampu memiliki televisi hitam putih. Bagi warga kampung, rumah yang memiliki televisi menjadi tempat berkumpul setiap malam untuk menikmati hiburan bersama.
Di sebuah kampung sederhana yang dikelilingi hamparan tanah pasir putih dan deretan pohon kelapa, berdiri beberapa rumah panggung kayu yang saling berjauhan sekitar 15 meter. Di antara rumah-rumah itu, hanya ada satu rumah yang memiliki televisi hitam putih.
Televisi itu menjadi kebanggaan sekaligus milik bersama dalam arti sebenarnya. Meski secara kepemilikan milik satu keluarga, hampir seluruh warga kampung ikut merasakan manfaatnya.
Memiliki televisi saja ternyata belum cukup. Tantangan terbesar saat itu adalah menangkap siaran TVRI, satu-satunya stasiun televisi nasional yang dapat diterima di daerah tersebut.
Agar gambar televisi terlihat jelas, diperlukan antena yang dipasang sangat tinggi. Tiangnya dibuat dari batang kayu yang lurus dan kuat. Di bagian bawah, sekitar dua meter dari permukaan tanah, dipasang empat batang kayu sebagai penjepit yang mengapit tiang utama agar tetap kokoh. Bagian atas tiang kemudian diikat kuat pada kayu bubungan atap rumah supaya tidak bergoyang diterpa angin.
Sekitar enam hingga delapan warga bergotong royong mengangkat tiang antena secara perlahan. Ada yang memegang bagian bawah, ada yang mengatur posisi tiang, sementara yang lain mengikatnya ke rangka atap rumah.
Suasana penuh canda dan tawa terdengar di halaman rumah. Tidak ada upah, tidak ada bayaran. Semua dilakukan dengan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat kampung pada masa itu.
Setelah antena berdiri tegak, seseorang masuk ke dalam rumah untuk memperhatikan layar televisi.
"Sudah jelas?"
Belum...
"Putar sedikit ke kanan!"
"Naikkan lagi!"
Suara komando bersahut-sahutan dari dalam rumah hingga akhirnya terdengar teriakan yang paling ditunggu.
"Sudah... sudah jernih!"
Seketika wajah-wajah yang sejak tadi berkeringat berubah menjadi senyum puas.
Anak-anak juga tidak ketinggalan dalam menyaksikan tv hitam putih dan hanya siaran tvri saja yang dapat. Orang dewasa menyusul setelah selesai bekerja di kebun atau pulang dari sungai. Ada yang duduk di lantai, di bangku kayu, bahkan di tangga rumah. Sebagian lagi rela berdiri di dekat jendela agar tetap bisa melihat layar televisi.
Bagi mereka, yang terpenting adalah bisa menonton bersama.
Acara yang paling ditunggu adalah "Aneka Ria Safari", "Dunia Dalam Berita", serta berbagai tayangan musik dan lagu-lagu qasidah yang disiarkan TVRI. Ketika acara hiburan dimulai, anak-anak terlihat begitu antusias, sementara orang tua menikmati setiap lagu yang diputar.
Televisi pada masa itu berbeda dengan sekarang. Bentuknya besar dengan layar hitam putih dan dilengkapi pintu geser dari kayu di bagian depan.
Saat tidak digunakan, kedua pintu kayu itu ditutup rapat untuk melindungi layar dari debu. Setelah malam tiba, pemilik rumah membuka pintu geser tersebut dengan hati-hati, lalu memutar tombol televisi hingga terdengar suara dengung khas sebelum gambar perlahan muncul di layar.
Bagi anak-anak kampung, momen itu selalu menghadirkan rasa takjub.
Simbol Kebersamaan yang Sulit Dilupakan
Di zaman ketika listrik belum menjangkau seluruh wilayah dan siaran televisi hanya satu saluran, masyarakat justru merasakan kebersamaan yang luar biasa.
Tidak ada yang sibuk dengan telepon genggam.
Tidak ada yang menonton sendirian di kamar.
Semua berkumpul dalam satu rumah, menikmati satu layar kecil yang menjadi jendela melihat dunia luar.
Televisi bukan sekadar alat hiburan, melainkan media yang mempererat hubungan antartetangga. Dari rumah sederhana itu, anak-anak belajar mengenal Indonesia, orang dewasa mengikuti berita nasional, sementara para orang tua menikmati hiburan setelah seharian bekerja.
Kini, hampir setiap rumah memiliki televisi layar datar, antena digital, bahkan akses internet dengan ribuan saluran hiburan yang dapat dinikmati kapan saja. Namun, kemudahan teknologi itu tidak selalu menghadirkan kehangatan seperti yang pernah dirasakan masyarakat kampung di tepian Sungai Rokan.
Kenangan bergotong royong menegakkan antena kayu, menunggu gambar TVRI menjadi jernih, hingga duduk berdesakan menyaksikan Dunia Dalam Berita, Aneka Ria Safari, dan lantunan lagu-lagu qasidah, menjadi potongan sejarah yang tak ternilai.
Bagi generasi yang pernah mengalaminya, masa itu mungkin serba terbatas. Namun di balik segala keterbatasan, tersimpan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong yang kini semakin sulit ditemukan. Sebuah antena kayu yang berdiri tegak di samping rumah panggung bukan sekadar penangkap siaran televisi, melainkan simbol persatuan sebuah kampung yang menikmati kebahagiaan bersama dari satu layar hitam putih.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.