Tahun 1996. Masa ketika televisi parabola masih menjadi hiburan yang langka di kampung. Tidak semua rumah memilikinya. Jika ada kedai di pasar yang memasang parabola jaring, apalagi sedang memutar film yang sedang digemari, tempat itu pasti dipenuhi penonton dari berbagai usia. Fenomena berkumpul di depan televisi umum seperti ini memang menjadi bagian dari kenangan masyarakat pada era 1990-an.
Sabtu itu menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh tujuh orang siswa kelas 3 SMP.
Mereka sudah mendengar kabar sejak beberapa hari sebelumnya.
"Hari Sabtu jam sepuluh pagi, film Jaka Swara diputar di TV parabola channel tpi."
Akhirnya, saat jam pelajaran masih berlangsung, mereka diam-diam keluar dari sekolah. Menyusuri jalan kampung yang masih berupa jalan tanah, melewati semak disepanjang jalan setapak menuju jalan besar.
Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka tiba dipasar kebetulan hari Sabtu merupakan pasar dan di deretan rumah panggung yang semuanya menjadi kedai di pasar.
Di salah satu kedai itulah sudah memiliki parabola pada masa itu dan televisinya sudah menyala di atas atap seng berdiri kokoh sebuah parabola jaring besar.
Ada yang duduk di bangku panjang di teras dan ada yang berdiri diatas tangga mau masuk keledai demi dapat menyaksikan film Jaka swara yang sangat populer waktu itu.
Semua mata tertuju ke layar televisi film Jaka Swara membuat mereka lupa waktu mereka tertawa, terharu bercampur jadi satu kadang saling berbisik membahas adegan yang sedang berlangsung.
Bagi anak-anak tahun 1996, saat itu terasa seperti bioskop paling mewah yang pernah ada.
Senin yang Menegangkan namun, setiap kenakalan pasti ada akibatnya hari Senin pagi bel sekolah berbunyi seluruh siswa mengikuti upacara seperti biasa dan setelah selesai upacara tujuh siswa yang diketahui cabut sekolah dipanggil ke depan di dekat tiang bendera.
Mereka diminta berdiri memberi hormat ke arah Sang Merah Putih sebagai bentuk hukuman disiplin matahari mulai meninggi udara terasa panas keringatpun mulai terasa.
Teman-teman hanya melihat dari kejauhan sekolah saat itu masih dikelilingi kebun karet, semak belukar, dan hutan kecil sehingga suasananya terasa sunyi sekitar satu jam berlalu seorang guru berjalan perlahan mendekati mereka dengan wajah yang tetap tegas namun penuh kebijaksanaan, beliau berkata,
"Sudah cukup. Sekarang silakan masuk ke kelas. Jangan diulangi lagi. Sekolah lebih penting daripada mengejar film."
Mereka menjawab hampir bersamaan,
"Baik, Pak."
Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani meninggalkan sekolah hanya demi menonton film kenangan yang Kini Menjadi Cerita
Kini, puluhan tahun telah berlalu.
Televisi parabola bukan lagi barang langka.
Film bisa ditonton kapan saja melalui internet.
Namun, suasana berkumpul di sebuah kedai kayu, duduk di bangku panjang, berdiri di tangga rumah panggung sambil menonton televisi bersama teman-teman, adalah kenangan yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun.
Begitu pula hukuman berdiri hormat di dekat tiang bendera.
Saat itu terasa berat.
Kini justru menjadi cerita yang sering dikenang sambil tertawa.
Karena di balik kenakalan masa remaja, tersimpan pelajaran berharga tentang tanggung jawab, persahabatan, dan arti disiplin.
Kadang, kenangan paling indah bukan berasal dari saat kita selalu benar, tetapi dari kesalahan kecil yang akhirnya mengajarkan kita untuk menjadi lebih baik.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.