Sokai Developer
Kota Dumai Riau    sokaideveloper@gmail.com
Senin - Sabtu 08:00 - 17:00 Wib   |   Minggu Libur
NEWS
PC Mini Dijadikan Server: Solusi Hemat, Ringkas, dan Andal untuk Berbagai Kebutuhan      Pentil Sepeda, Permainan Masa Kecil Anak Kampung yang Kini Tinggal Kenangan      Meriam Bambu, Tradisi Ramadan yang Penuh Kenangan      Meriam Bambu Mini, Permainan Anak yang Selalu Hadir Saat Bulan Puasa      Tuai Padi Tradisional di Kampung Zaman Dulu      Kisah Bayi Perempuan yang Ditukar Orang Bunyian dengan Bayi Lelaki      Legenda Pemuda Kampung yang Konon Diangkat Menjadi Raja Orang Bunyian      Ketika Padi yang Hilang Kembali dari Kaum Bunyian      Kisah yang Dituturkan Turun-Temurun: Saat Manusia dan Orang Bunyian Masih Saling Berhubungan      Kisah Nyata: Cahaya di Dasar Sungai yang Membuat Salat Magrib Terlewat      PC Mini Dijadikan Server: Solusi Hemat, Ringkas, dan Andal untuk Berbagai Kebutuhan      Pentil Sepeda, Permainan Masa Kecil Anak Kampung yang Kini Tinggal Kenangan      Meriam Bambu, Tradisi Ramadan yang Penuh Kenangan      Meriam Bambu Mini, Permainan Anak yang Selalu Hadir Saat Bulan Puasa      Tuai Padi Tradisional di Kampung Zaman Dulu      Kisah Bayi Perempuan yang Ditukar Orang Bunyian dengan Bayi Lelaki      Legenda Pemuda Kampung yang Konon Diangkat Menjadi Raja Orang Bunyian      Ketika Padi yang Hilang Kembali dari Kaum Bunyian      Kisah yang Dituturkan Turun-Temurun: Saat Manusia dan Orang Bunyian Masih Saling Berhubungan      Kisah Nyata: Cahaya di Dasar Sungai yang Membuat Salat Magrib Terlewat     

Sungai Rokan Tempo Dulu: Rakit Penjual Minyak yang Menjadi Persinggahan Kapal-Kapal Kayu

25 Jul 2026
Sokai Developer
36 dilihat
0 komentar
Kenangan

Pada era 1990-an, sebelum jalan darat berkembang seperti sekarang, Sungai Rokan merupakan urat nadi kehidupan masyarakat. Sungai ini menjadi jalur utama transportasi, perdagangan, dan distribusi barang dari hulu hingga hilir, termasuk menuju Bagansiapiapi. Perahu kayu, pompong, hingga kapal pengangkut barang setiap hari melintasi aliran sungai yang membelah wilayah Rokan.

Di tengah kesibukan lalu lintas sungai itulah berdiri sebuah rumah rakit sederhana yang menjadi tempat tinggal sekaligus pusat usaha sebuah keluarga. Rakit kayu yang terapung di atas Sungai Rokan itu bukan hanya menjadi rumah, tetapi juga menjadi tempat penjualan bahan bakar yang melayani masyarakat dan kapal-kapal kayu yang melintas.

Jauh sebelum hadirnya stasiun pengisian bahan bakar modern, keluarga ini telah menjalankan usaha penjualan berbagai jenis minyak. Mereka menjual minyak tanah, solar, hingga oli mesin untuk kebutuhan kapal kayu dan masyarakat sekitar.

Letak rakit yang berada di jalur pelayaran membuat banyak kapal memilih singgah. Kapal-kapal kayu berukuran besar yang datang dari Bagansiapiapi menuju daerah hulu Sungai Rokan hampir selalu berhenti untuk mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan.

Bagi para nakhoda, rakit tersebut sudah seperti tempat persinggahan wajib. Di sanalah mereka mengisi persediaan solar, membeli oli mesin, sekaligus beristirahat sejenak sebelum kembali mengarungi sungai.

Tidak tanggung-tanggung, dalam sekali pengisian sebuah kapal dapat membeli hingga lima drum solar, tergantung jauhnya perjalanan yang akan ditempuh. Aktivitas bongkar muat drum minyak dilakukan dua orang di atas rakit dengan penuh kehati-hatian dan drum dinaikkan keatas tempat yang agak tinggi dengan cara memutar tali ditengah drumnya agar drum berputar dan naik keatas kemduian baru disalurkan kekapal kayu yang membutuhkannya tanpa ada penggerak dari mesin atau pompa mesin pada waktu itu.

Jika kapal-kapal besar membeli dalam jumlah banyak, masyarakat sekitar memiliki kebutuhan yang berbeda.

Setiap sore hari, warga dari kampung-kampung di sepanjang Sungai Rokan datang menggunakan sampan. Mereka mendayung perlahan menuju rakit untuk membeli minyak tanah sebagai bahan bakar lampu teplok dan kompor minyak.

Suasana rakit hampir tidak pernah sepi. Sampan-sampan kecil silih berganti melintasi didepan rakit ada yang memancing udang, mengangkat perangkap ikan berbagai aktivitas nelayan pada masa itu.

Tinggal di atas rakit berarti harus hidup mengikuti irama alam. Permukaan rumah akan naik saat air pasang dan turun ketika air surut.

Fenomena ini bahkan memengaruhi hiburan keluarga. Pada awal tahun 1990-an, mereka telah memiliki sebuah televisi yang menjadi hiburan bagi seluruh anggota keluarga.

Namun, ketika air sungai surut, posisi rakit ikut turun sehingga antena televisi berada lebih rendah. Akibatnya, gambar di layar menjadi buram atau bahkan menghilang.

Sebaliknya, ketika air mulai pasang, rakit kembali terangkat. Antena menjadi lebih tinggi sehingga siaran televisi kembali jernih. Bagi keluarga itu, naiknya air bukan sekadar perubahan alam, tetapi juga pertanda bahwa mereka dapat menikmati acara televisi dengan gambar yang lebih jelas.

Usaha penjualan bahan bakar di atas rakit bukan hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, tetapi juga membantu kelancaran aktivitas masyarakat.

Kapal-kapal pengangkut hasil kebun, pedagang, nelayan, hingga warga yang bepergian bergantung pada ketersediaan bahan bakar tersebut. Rakit menjadi tempat bertemunya berbagai kalangan, mulai dari nakhoda kapal, pedagang, petani, hingga masyarakat biasa.

Di sana tidak hanya terjadi transaksi jual beli, tetapi juga pertukaran kabar, cerita, dan informasi mengenai kondisi sungai maupun kampung-kampung di sepanjang aliran Sungai Rokan.

Seiring berkembangnya jaringan jalan raya dan semakin mudahnya akses kendaraan darat, aktivitas perdagangan di sungai mulai berkurang. Kapal-kapal kayu yang dahulu ramai melintas kini tidak sebanyak dulu, sementara rumah-rumah rakit satu per satu menghilang.

Meski demikian, kenangan tentang rakit penjual minyak di Sungai Rokan tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Bagi mereka yang pernah singgah, rakit itu bukan sekadar tempat membeli solar atau minyak tanah. Rakit tersebut adalah simbol kerja keras, kemandirian, dan kehidupan masyarakat sungai yang mampu bertahan dengan memanfaatkan alam secara bijaksana.

Kini, foto-foto lama rakit menjadi saksi bisu sebuah masa ketika Sungai Rokan benar-benar menjadi nadi kehidupan. Dari sebuah rumah terapung yang sederhana, sebuah keluarga membesarkan anak-anaknya, melayani para pelaut dan warga, serta membangun usaha yang ikut menggerakkan roda perekonomian masyarakat di sepanjang aliran sungai. Kisah itu menjadi bagian dari sejarah lokal yang layak dikenang dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai potret kehidupan masyarakat Sungai Rokan pada masa dulu.

Bagikan Artikel
Komentar (0)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.