Pada era 1980-an, ketika lapangan pekerjaan masih sangat terbatas dan kehidupan masyarakat pedesaan bergantung pada hasil alam, pohon enau menjadi salah satu sumber penghidupan yang sangat berharga. Bagi masyarakat yang memiliki kebun dengan beberapa batang enau, menyadap air nira bukan sekadar pekerjaan sambilan, melainkan mata pencaharian yang membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Setiap pagi dan sore, para penyadap membawa sebilah pisau yang diselipkan di pinggang. Mereka memanjat pohon enau yang tingginya bisa mencapai belasan meter menggunakan tangga dari satu batang bambu utuh. Ruas-ruas bambu dipotong pendek di sisi kiri dan kanan sehingga menyisakan sekitar satu jengkal sebagai pijakan kaki. Tangga sederhana itu kemudian diikat kuat pada batang enau sebelum digunakan untuk memanjat.
Pekerjaan tersebut membutuhkan keberanian, keseimbangan, dan pengalaman. Sedikit saja lengah, risiko terjatuh dari ketinggian selalu mengintai.
Sebelum air nira dapat disadap, masyarakat memiliki cara tradisional yang diwariskan turun-temurun. Tandan bunga atau buah enau tidak langsung dipotong. Selama beberapa hari, tandan tersebut terlebih dahulu diayun-ayunkan dan dipukul perlahan menggunakan kayu. Menurut kepercayaan dan pengalaman para penyadap, cara ini membantu memperlancar keluarnya air nira sehingga hasil yang diperoleh lebih banyak.
Setelah siap, ujung tandan dipotong sedikit demi sedikit. Pada bekas potongan itulah dipasang taguk, yaitu penampung yang dibuat dari bambu besar sepanjang kurang lebih satu meter. Air nira kemudian menetes perlahan memenuhi bambu penampung hingga waktunya diambil.
Namun, proses penyadapan tidak selalu berjalan mulus. Aroma manis air nira sering mengundang tawon, lebah, semut, bahkan serangga lainnya. Tidak jarang penyadap disengat tawon saat hendak mengganti atau mengambil taguk. Selain itu, kondisi batang enau yang dipenuhi ijuk dan pelepah tua juga membuat pekerjaan menjadi semakin sulit.
Sesampainya di rumah, air nira yang telah terkumpul segera dimasak menggunakan tungku kayu bakar selama berjam-jam hingga mengental. Dari proses inilah dihasilkan gula merah yang dicetak menggunakan tempurung kelapa atau cetakan bambu.
Selain gula merah, sebagian masyarakat juga membuat gula lomak, makanan tradisional yang berbentuk bulat memanjang menyerupai lemang. Gula yang masih hangat dicampur dengan kelapa parut sehingga menghasilkan cita rasa manis dan gurih yang khas. Gula lomak kemudian dijual di pasar-pasar tradisional atau kepada warga sekitar, bahkan sering menjadi bekal bagi para petani yang bekerja di kebun.
Bagi masyarakat kampung pada masa itu, hasil penjualan gula merah dan gula lomak menjadi sumber pendapatan penting. Uang yang diperoleh digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, membiayai sekolah anak, hingga memenuhi berbagai keperluan rumah tangga.
Kini, tradisi menyadap air enau mulai jarang dijumpai. Meski demikian, kisah para penyadap yang rela memanjat pohon tinggi, menghadapi sengatan tawon, dan mempertaruhkan keselamatan demi menghidupi keluarga menjadi bagian dari warisan budaya dan kearifan lokal yang patut dikenang. Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan pemanfaatan hasil alam secara bijaksana telah menjadi fondasi kehidupan masyarakat pedesaan Indonesia sejak dahulu.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.