Tahun 1990-an menyimpan banyak kenangan yang tidak mudah dilupakan. Pada masa itu, kehidupan di tengah hutan rimba dan rawa terasa begitu dekat dengan alam. Belum banyak kemudahan seperti sekarang. Untuk mencari rezeki, kami harus menempuh perjalanan jauh, menyusuri sungai-sungai kecil dengan sampan kayu, melewati pepohonan lebat, akar-akar yang menjalar, dan air rawa yang tenang.
Pagi-pagi sekali, ketika kabut masih menyelimuti permukaan air dan suara burung hutan terdengar bersahutan, kami sudah bersiap untuk berangkat mencari kayu balak. Dengan membawa peralatan kerja, bekal makanan, dan perlengkapan sederhana, kami menyusuri jalur air yang membelah hutan belantara. Perjalanan itu bukan perkara mudah. Kadang-kadang sampan harus melewati ranting-ranting yang menghalangi jalan, tumbuhan liar yang menutupi permukaan air, serta lorong rawa yang sempit dan gelap.
Namun, begitulah kehidupan pada zaman dahulu. Selama masih ada tenaga dan semangat, pekerjaan harus diteruskan demi mencari nafkah.
Ketika matahari mulai meninggi, panas terasa menyengat di tengah rimba. Setelah bekerja sejak pagi, tibalah waktunya untuk beristirahat. Kami mencari tempat yang agak teduh di antara pepohonan rawa, lalu menghentikan sampan di aliran air yang tenang.
Bekal makanan sederhana pun dikeluarkan. Ada nasi putih yang dibungkus, lauk seadanya, sambal, dan air minum untuk melepas dahaga. Kami duduk di dalam sampan, menikmati makan siang sambil memandang air rawa yang berkilauan terkena cahaya matahari.
Tidak ada meja, tidak ada kursi, dan tidak ada tempat makan yang mewah. Sampan kayu itulah tempat kami duduk, makan, bercakap-cakap, sekaligus melepas lelah.
Anehnya, makanan sederhana yang disantap di tengah hutan terasa begitu nikmat. Mungkin karena perut sudah lapar setelah bekerja keras, atau mungkin karena suasana alam yang begitu tenang membuat hati terasa damai.
Sesekali terdengar suara ikan menyambar serangga di permukaan air. Riak kecil muncul di antara tumbuhan rawa. Dari kejauhan, terdengar suara burung dan bunyi dedaunan yang bergesekan ditiup angin.
Di tempat seperti itulah, kebahagiaan sederhana terasa begitu nyata.
Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, kami tidak langsung kembali bekerja. Waktu yang tersisa dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang sudah menjadi kesenangan tersendiri: memancing ikan puyu.
Peralatan yang digunakan sangat sederhana. Hanya pancing kecil, tali, mata kail, dan umpan seadanya. Tidak perlu peralatan mahal atau teknologi canggih. Cukup mencari tempat yang sesuai, memasang umpan, lalu menunggu ikan menyambar.
Di tengah hutan rawa yang sunyi, kami melemparkan kail ke sela-sela tumbuhan air. Airnya tampak gelap karena bayangan pepohonan yang rimbun. Di beberapa bagian, akar-akar besar menjulur hingga ke permukaan air, menjadi tempat yang cocok bagi ikan untuk bersembunyi.
Tidak lama kemudian, salah satu pancing mulai bergerak.
Tarikan kecil terasa pada tali pancing. Dengan cepat, kail diangkat, dan seekor ikan puyu menggelepar di ujungnya. Kami tersenyum gembira. Pancing kembali dilemparkan, dan tidak lama berselang, ikan berikutnya menyambar umpan.
Lama-kelamaan, ikan puyu semakin banyak didapat. Ada yang kecil, ada pula yang cukup besar. Setiap kali berhasil mengangkat ikan, semangat semakin bertambah.
Kami saling bercanda dan sesekali tertawa melihat hasil tangkapan yang terus bertambah. Rasa lelah setelah bekerja mencari kayu balak seolah hilang begitu saja. Di tengah rawa yang jauh dari keramaian, kegiatan sederhana itu menjadi hiburan yang sangat berharga.
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Keranjang dan wadah yang dibawa mulai terisi. Di dasar sampan, ikan puyu terkumpul semakin banyak hingga hampir memenuhi ruang yang tersedia.
Setiap kali melihat hasil tangkapan, kami merasa bersyukur. Bukan hanya karena mendapatkan banyak ikan, tetapi juga karena dapat menikmati waktu bersama di tengah alam yang masih begitu asri.
Bayangkan, pada masa itu kami bisa bekerja mencari kayu balak sejak pagi, beristirahat sambil makan di dalam sampan, kemudian memancing ikan puyu hingga memperoleh hasil yang melimpah. Semua berlangsung tanpa harus memikirkan telepon pintar, media sosial, atau kesibukan dunia modern.
Yang ada hanyalah pekerjaan, persahabatan, alam, dan rezeki yang didapat dengan usaha sendiri.
Ikan-ikan puyu yang terkumpul bukan sekadar hasil memancing. Ikan itu bisa dibawa pulang untuk dimasak menjadi lauk makan bersama keluarga. Ikan puyu goreng dengan sambal sederhana tentu terasa nikmat, apalagi jika dinikmati setelah seharian bekerja keras.
Salah satu hal yang paling membekas dari kenangan tahun 1990-an adalah suasana hutannya. Pepohonan tumbuh rapat di sepanjang aliran air. Akar-akar menjalar ke mana-mana. Tumbuhan rawa mengapung di permukaan sungai, sementara pantulan cahaya matahari menciptakan pemandangan yang sulit dilupakan.
Pada waktu tertentu, cahaya matahari menembus celah-celah dedaunan dan jatuh di atas air. Udara terasa lembap, suara alam terdengar jelas, dan suasana jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota.
Tidak ada suara kendaraan yang bising. Tidak ada bangunan tinggi. Hanya sampan kayu yang bergerak perlahan, suara dayung menyentuh air, serta percakapan sederhana antara kawan seperjalanan.
Masa itu mungkin penuh kesulitan. Pekerjaan berat, perjalanan jauh, dan kehidupan yang serba terbatas merupakan bagian dari keseharian. Namun, di balik semua itu, terdapat kenangan indah yang sulit digantikan.
Kini, ketika mengingat kembali masa-masa tersebut, rasanya seperti kembali ke masa lalu. Seolah-olah masih terlihat tiga orang duduk di dalam sampan kayu, dikelilingi hutan rawa yang lebat, sambil menikmati makan siang dan memancing ikan puyu.
Masih terbayang wajah-wajah yang tersenyum ketika seekor ikan berhasil diangkat. Masih teringat bunyi air yang beriak saat ikan bergerak di dalam sampan. Dan masih terasa suasana tenang ketika matahari menyinari permukaan rawa.
Waktu memang terus berjalan. Banyak hal telah berubah. Hutan yang dahulu lebat mungkin tidak lagi sama, jalur air yang dahulu sering dilalui mungkin telah berubah, dan kawan-kawan seperjalanan pun mungkin kini sudah menjalani kehidupan masing-masing.
Namun, kenangan itu tetap tersimpan di dalam hati.
**Tahun 90-an bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang perjuangan mencari rezeki, persahabatan, kesederhanaan, dan kebahagiaan yang ditemukan di tengah alam.**
Mencari kayu balak sejak pagi, makan siang di dalam sampan, lalu memancing ikan puyu hingga hampir memenuhi sampan adalah bagian dari cerita kehidupan yang begitu berharga.
Bagi mereka yang pernah mengalaminya, kenangan seperti ini tidak dapat dibeli dengan uang. Sebab, ada masa ketika kebahagiaan tidak datang dari kemewahan, melainkan dari hasil kerja keras, ikan yang didapat bersama, dan tawa kecil di tengah rimba rawa.
**Kenangan tahun 90-an akan selalu hidup, meskipun waktu terus membawa kita semakin jauh dari masa itu.**
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.