Konon, pada zaman dahulu, di sebuah hutan lebat yang jauh dari perkampungan, hiduplah seorang petani sederhana yang setiap hari bekerja membuka lahan dan mencari kayu di dalam hutan.
Hutan itu terkenal sangat luas. Pepohonan besar tumbuh menjulang tinggi, akar-akar menjalar di atas tanah, dan suara binatang liar terdengar bersahutan. Di tengah hutan tersebut mengalir sebuah sungai kecil dengan air yang sangat jernih. Sungai itu menjadi tempat para pencari kayu dan petani beristirahat setelah lelah bekerja.
Pada suatu sore, setelah seharian bekerja menebas semak dan membersihkan lahan, petani itu merasa tubuhnya sangat letih. Ia kemudian berjalan menuju sungai kecil untuk mencuci tangan dan membersihkan kotoran yang menempel di tubuhnya.
Ketika tiba di tepi sungai, ia melihat sebuah batang kayu tua yang sangat besar. Bentuknya memanjang mengikuti aliran sungai. Sebagian batang itu tertanam di dalam tanah, sedangkan sebagian lainnya muncul keluar dari tebing sungai hingga membentuk permukaan yang cukup lebar untuk dipijak.
Batang kayu itu tampak sangat buruk. Kulitnya hitam, lapuk, berlumut, dan dipenuhi bagian-bagian yang terlihat seperti kayu mati yang sudah lama membusuk.
Ia kemudian meletakkan parangnya dengan cara menancapkannya di samping batang kayu tersebut. Setelah itu, ia berjongkok di atas batang kayu yang menonjol di tepi sungai, lalu mulai mencuci kedua tangannya menggunakan air sungai yang mengalir jernih.
Namun, ketika sedang mencuci tangan, tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuatnya terdiam.
Dari bagian batang kayu yang buruk itu terlihat cairan merah kental mengalir perlahan. Cairan tersebut keluar tepat di dekat tempat parangnya ditancapkan.
Petani itu mengernyitkan dahi.
'Kenapa batang kayu ini mengeluarkan darah?' gumamnya dalam hati.
Ia kemudian memperhatikan parang yang tadi digunakannya. Mata parang itu memang berada dekat bagian batang yang mengeluarkan cairan merah. Namun, semakin lama diperhatikan, semakin banyak cairan merah yang keluar dari celah-celah kayu tersebut.
Petani itu mulai merasa heran sekaligus takut.
Ia mencoba mengamati lebih dekat. Batang yang selama ini dikiranya hanya kayu busuk ternyata memiliki tekstur yang aneh. Ada bagian yang menyerupai sisik, tetapi tertutup tanah, lumut, dan akar-akar tua.
Tiba-tiba ia teringat cerita orang-orang tua di kampungnya.
Dahulu, para leluhur sering bercerita bahwa di dalam hutan tertentu terdapat makhluk besar yang sudah hidup sejak ratusan tahun. Makhluk itu konon dapat bertapa di dalam tanah hingga tubuhnya tertutup akar, lumpur, dan pepohonan. Bahkan, sebagian tubuhnya bisa disangka sebagai batang kayu oleh manusia.
Petani itu mulai mundur perlahan.
Ia memandang batang panjang yang membentang mengikuti aliran sungai. Kini ia menyadari sesuatu yang sangat mengerikan.
Batang buruk yang selama ini dipijaknya ternyata bukan kayu biasa.
Menurut cerita yang kemudian berkembang dari mulut ke mulut, batang tersebut sebenarnya adalah tubuh seekor ular raksasa yang sedang bertapa di dalam tanah.
Ular itu telah berdiam di sana selama waktu yang sangat lama. Sebagian besar tubuhnya tertanam di dalam tanah, sementara bagian tubuhnya yang memanjang keluar mengikuti tebing sungai terlihat seperti batang kayu tua yang membusuk.
Konon, ular besar tersebut sudah tidak mampu bergerak karena tubuhnya telah menyatu dengan tanah dan akar-akar pepohonan selama bertahun-tahun. Ia hanya dapat membuka mulut dan mengisap binatang yang kebetulan melintas di hadapannya.
Binatang kecil, burung, bahkan hewan hutan yang mendekati tempat itu konon dapat tersedot masuk ke dalam mulutnya tanpa sempat melarikan diri.
Itulah sebabnya tempat tersebut sering dianggap aneh oleh penduduk sekitar. Binatang-binatang yang melewati kawasan itu terkadang menghilang begitu saja.
Petani itu semakin ketakutan ketika membayangkan bahwa selama ini ia bukan sedang duduk di atas batang kayu, melainkan di atas tubuh seekor ular raksasa yang sedang bertapa.
Ia segera mengambil parangnya, lalu menjauh dari sungai tersebut tanpa berani menoleh kembali.
Sesampainya di kampung, ia menceritakan kejadian itu kepada warga. Awalnya tidak semua orang percaya. Namun, beberapa orang tua yang mendengar kisah tersebut justru terdiam. Mereka mengatakan bahwa sejak dahulu memang ada cerita tentang ular besar penghuni hutan yang tidak boleh diganggu.
Sejak kejadian itu, penduduk kampung mulai menghindari sungai kecil tersebut, terutama ketika hari mulai gelap.
Mereka percaya bahwa batang buruk yang terlihat di tepi sungai bukanlah kayu mati, melainkan tubuh ular tua yang sedang menjalani pertapaan panjang di dalam tanah.
Orang-orang tua zaman dahulu selalu berpesan agar manusia tidak sembarangan mengganggu sesuatu yang belum diketahui asal-usulnya ketika berada di dalam hutan. Sebab, tidak semua yang terlihat seperti kayu mati, batu, atau akar tua benar-benar benda biasa.
Dan hingga kini, cerita tentang batang kayu berdarah dan ular raksasa yang bertapa itu konon masih menjadi kisah misteri yang diceritakan turun-temurun dari mulut ke mulut.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.